Tim Bravo GRC Universitas Brawijaya (Dok. Tim Bravo UB)

Kota Batu, Sketsakini.com– Universitas Brawijaya, melalui kolaborasi dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Batu, kembali menunjukkan komitmennya dalam memberikan kontribusi kepada masyarakat, khususnya dalam bidang edukasi bencana alam. Pengabdian masyarakat yang terbentuk dalam kegiatan Doktor Mengabdi 2024 ini difokuskan pada anak-anak Taman Kanak-Kanak (TK) di Kota Batu, dengan tujuan utama meningkatkan kesadaran dan pemahaman mereka terhadap bencana alam, khususnya terkait dengan bahaya gunung api.

Adapun TK sasaran kegiatan kali ini adalah PAUD Cahaya Permata Abadi yang berada di Jl. Imam Bonjol No.40, Kelurahan Sisir, Kota Batu. Kota Batu sendiri berdekatan dengan salah satu gunung api aktif di Jawa Tmur yakni Gunung Arjuno-Welirang yang berada di Sebelah Utara, sehingga tema yang diangkat dalam kegiatan kali ini sangat relevan.

Ketua tim Doktor Mengabdi, Prof. Ir. Sukir Maryanto, S.Si., M.Si., Ph.D dari Fakultas MIPA, yang menyingkat namanya “Kak Suto” untuk menyesuaikan situasi PAUD yang berbeda ketika berhadapan dengan mahasiswa. Adapun anggota tim Universitas Brawijaya yang terlibat dalam kegiatan ini antara lain, Prof. Dr. Candra Fajri Ananda, S.E.,M.Sc (FEB), Dr.Eng. Ir. Herman Tolle, S.T., M.T. (FILKOM), Faridha Aprilia S.T., M.Eng. (FMIPA), serta 20 orang mahasiswa prodi Teknik Geofisika UB.

Edukasi Bencana Alam Sejak Dini

Kegiatan Doktor Mengabdi 2024 didasari akan pentingnya memberikan pemahaman mengenai bencana alam kepada anak-anak sejak usia dini. Anak-anak TK menjadi target utama karena mereka merupakan kelompok yang rentan, namun memiliki potensi besar untuk menyerap informasi dan membentuk perilaku yang tepat dalam menghadapi bencana. Dalam kegiatan ini, anak-anak diperkenalkan dengan konsep dasar tentang gunung api, letusan, serta tindakan yang harus dilakukan apabila terjadi situasi darurat.

Kegiatan dilaksanakan dengan pendekatan yang interaktif dan edukatif, disesuaikan dengan tingkat pemahaman anak-anak TK. Acara diawali dengan sambutan dari ketua BPBD Kota Batu, Bapak Agung Sedayu, S.T., M.T., yang dilanjutkan dengan sesi pengenalan tentang gunung api yang disampaikan dalam bentuk cerita dan visual yang menarik oleh Prof. Sukir Maryanto. Selain itu, anak-anak juga diajak untuk berpartisipasi dalam demo simulasi sederhana yang menggambarkan proses gunung api meletus yang dibimbing oleh mahasiswa Universitas Brawijaya didampingi oleh para guru dari PAUD CPA.

Selain pengenalan bencana pada anak-anak, edukasi kebencanaan juga dilakukan dengan membuat denah jalur evakuasi di lingkungan PAUD Cahaya Permata Abadi. Tujuannya adalah untuk memudahkan dalam mitigasi bencana ketika bencana alam terjadi di lingkunga sekolah. Menariknya, ditengah-tengah kegiatan edukasi bencana, terjadi gempa bumi yang terasa di lingkungan sekolah sehingga mitigasi bencana dapat dipraktikkan secara langsung untuk menghadapi situasi gempa. BMKG mencatat bahwa gempa yang terjadi memiliki magnitude 4.9 SR dengan pusat gempa berada di laut 115 km tenggara kabupaten Malang.

Kegiatan Lanjutan: Upacara Kemerdekaan

Upacara bendera . (Dok. Tim Bravo UB)

Sebagai rangkaian lanjutan dari kegiatan edukasi bencana, acara ini diakhiri dengan pelaksanaan upacara peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia yang melibatkan anak-anak TK yang dipimpin oleh Bunda Yuni Shara selaku Ketua Dewan Pembina PAUD Cahaya Permata Abadi. Upacara ini tidak hanya menjadi momen untuk mengenang jasa para pahlawan, tetapi juga sebagai sarana untuk mengajarkan nilai-nilai kebangsaan dan kebersamaan kepada anak-anak. Dalam upacara ini, anak-anak dengan bangga mengikuti prosesi pengibaran bendera, menyanyikan lagu kebangsaan, dan berpartisipasi dalam berbagai lomba yang menghibur sekaligus mendidik.

Kegiatan pengabdian masyarakat yang dilakukan oleh Universitas Brawijaya dan BPBD Kota Batu ini tidak hanya memberikan pengetahuan tentang bencana alam kepada anak-anak TK, tetapi juga menanamkan nilai-nilai kebangsaan dan kerjasama melalui pelaksanaan upacara kemerdekaan. Melalui program ini, diharapkan anak-anak tidak hanya lebih siap dalam menghadapi bencana alam, tetapi juga memiliki rasa cinta tanah air yang kuat sejak dini. Program ini merupakan langkah nyata dalam membentuk generasi yang tanggap bencana dan cinta tanah air.

Tinggalkan komentar

Sedang Tren