
TULUNGAGUNG, Sketsakini.com| Kami melakukan perjalanan 58 kilometer, Tulungagung-Madiun, melalui jalan alternatif membelah hutan jati di lereng Gunung Wilis, Sabtu, 28 Desember 2024. Kami memasuki kawasan hutan menjelang magrib. Makin jauh ke dalam Kami melewati beberapa desa dan kecamatan. Salah satunya kecamatan Pagerwojo, Tulungagung, Jawa Timur.
Makin larut ketika kami menelusuri jalan yang ekstrem dan gelap. Tidak hanya menikung, kadang agak memutar tajam. Untuk mengatasi gelapnya hutan kami terus menggunakan lampu jauh.
Oh, ya kami menggunakan jalur itu karena Google mengabarkan ada tiga titik banjir di Ponorogo jika kami menggunakan jalan nasional. Akhirnya kami terjebak di hutan jati di lereng Wilis. Kami menempuh jalan berkelok-kelok yang mendaki.
Ketika gigi dua, tiba-tiba menanjak kami terhenti. Mundur. Terpaksa pakai hand rem untuk setengah kopling. Sepanjang perjalanan kami hanya bertemu sepeda motor penduduk lokal, atau mobil pengangkut susu.
Di salah satu tikungan tajam, kami sempat terkejut ketika sorotan lampu kami menangkap sosok nenek berbaju batik. Mak tratap, kami tajamkan pandangan. Nenek-nenek itu berubah menjadi sisa pokok kayu yang tumbang. Kami lega. Dan meneruskan perjalanan dengan perasaan yang mengharu biru.





Tinggalkan komentar