WAMENA, Sketsakini.com – Klaim itu datang lagi dari hutan Ndugama. Selasa pagi, 15 September 2026, sekitar pukul 09.25 WIT, jalur Trans Wamena-Nduga kembali berdarah.

Manajemen Markas Pusat KOMNAS TPNPB-OPM melalui Juru Bicaranya, Sebby Sambom, merilis siaran pers resmi. Dalam rilis itu, Panglima TPNPB Kodap III Ndugama Darakma, Brigjen Egianus Kogeya, menyatakan bertanggung jawab atas penembakan terhadap seorang sopir di jalur Trans Wamena-Nduga.

Korban belakangan teridentifikasi sebagai Aris Sanda, warga asal Toraja. Sopir lajuran yang telah melayani rute Wamena-Mbua sejak 2013 itu tewas di kawasan tanjakan Gunung Boy. Kendaraannya dibakar di lokasi.

Pasukan TPNPB di Wamena.

Dari kronologi yang dihimpun dari laporan media lokal di Wamena, saat kejadian Aris membawa sejumlah penumpang, di antaranya pendeta dan anak-anak. Kendaraan dihentikan kelompok bersenjata. Penumpang diperintahkan turun dan kemudian dilepaskan. Aris ditahan.

Sebuah video berdurasi 30 detik yang beredar di grup WhatsApp warga menunjukkan detik-detik sebelum eksekusi. Dalam kondisi tertekan, dengan laras senjata di sekelilingnya, Aris dipaksa mengucapkan pernyataan dukungan bagi Papua Merdeka sambil memegang bendera Bintang Kejora. Setelah itu ia ditembak mati.

TPNPB dalam rilisnya menyebut Aris sebagai “agen intelijen militer pemerintah Indonesia yang berprofesi sebagai sopir”. Tudingan tersebut merupakan klaim sepihak yang belum terverifikasi secara independen. Hingga berita ini diturunkan, aparat dari Satgas Ops Damai Cartenz menyatakan masih melakukan respons di lapangan dan belum memberikan keterangan resmi lengkap.

Ultimatum Terbuka

Yang membuat siaran pers kali ini berbeda adalah luasnya ultimatum yang menyertainya. Tidak hanya mengklaim penembakan, Brigjen Egianus Kogeya bersama Komandan Batalyon Albu Mayor Ebaroak Gwijangge dan Komandan Operasi Kompi 1 Albu Paldo Nirigi mengeluarkan peringatan keras:

  1. Warga pendatang yang disebut “imigran Indonesia” yang berprofesi sebagai tukang ojek, sopir taksi, sopir lajuran, hingga ASN diminta menghentikan aktivitas di jalur Trans Wamena-Nduga, Wamena-Tolikara, Wamena-Yalimo, dan Wamena-Jayapura.
  2. Kawasan Wamena, Habema, Nduga hingga Mumugu dinyatakan sebagai “wilayah perang” versi mereka, terlarang dilintasi pendatang. Hanya Orang Asli Papua yang diizinkan.
  3. TPNPB meminta aparat TNI-Polri untuk mengevakuasi korban dan bangkai mobil yang dibakar, namun melarang warga Papua, termasuk yang menjadi anggota TNI-Polri, untuk terlibat dalam evakuasi.

“Jika himbauan ini tidak diindahkan maka konsekuensinya wajib ditembak mati,” tulis Sebby Sambom dalam rilis yang ditandatangani Penanggungjawab Nasional Komando Markas Pusat TPNPB-OPM, Jenderal Goliath Tabuni dan jajaran komando lainnya.

Dalam narasi TPNPB, ultimatum ini disebut sebagai bagian dari penegakan Hukum Humaniter Internasional. Secara prinsip hukum konflik, pernyataan tersebut bertolak belakang. Menjadikan warga sipil – sopir, tukang ojek, ASN – sebagai target karena profesi atau asal-usul, serta menjadikan warga sipil tak berdaya sebagai sarana propaganda video, adalah pelanggaran serius terhadap prinsip pembedaan (distinction) dalam hukum humaniter.

Pola yang Berulang

Insiden di Gunung Boy bukan yang pertama di September ini. Sepekan sebelumnya, Rabu 9 September 2026, tiga ASN Dinas Pertanian Jayawijaya – Alprida Rapi, Alvonsius Albinus Mehan, dan Willi Mbuik – tewas ditembak di Distrik Muliama, Jayawijaya, dalam perjalanan dinas. Polanya sama: kendaraan dihentikan di jalan Trans, korban dituding sebagai intelijen, kemudian TPNPB Kodap III mengklaim bertanggung jawab.

KNPI Jayawijaya bahkan sudah bersuara sehari sebelum penembakan sopir ini, 14 September, meminta dibukanya ruang dialog damai karena warga sipil menjadi pihak paling rentan.

Jalur Trans Wamena-Nduga sendiri adalah nadi logistik. Di pegunungan yang terisolasi, lajuran seperti yang dikemudikan Aris Sanda adalah satu-satunya penghubung orang sakit, guru, hasil kebun, dan keluarga. Ketika sopir pendatang dilarang melintas, yang terdampak bukan hanya pendatang, tapi juga warga Nduga dan Lanny Jaya yang menggantungkan hidup pada jalur itu.

Hingga Selasa malam, evakuasi masih menunggu. Dan ultimatum itu kini menggantung di atas setiap kaca spion yang melintasi Wamena.

Tinggalkan komentar

Sedang Tren