Ilustrasi Enggano.

Bengkulu, Sketsakini.com — Laut akhirnya mengembalikan satu nama.

Setelah sepuluh hari menunggu kepastian di meja forensik, jenazah yang ditemukan terdampar di Pulau Enggano itu bersuara lewat darahnya sendiri. Tes DNA Tim DVI Polda Bengkulu cocok dengan DNA anaknya, Yayat. Ia adalah Sukarman, Anak Buah Kapal dari Speedboat Arupadatu 1, perahu yang sejak 7 September 2026 hilang di Selat Sunda bersama lima jurnalis di atasnya.

Polda Bengkulu memastikan, Sukarman akan pulang besok pagi.

“Besok jenazah akan berangkat dari rumah sakit Bhayangkara menuju bandara untuk selanjutnya diterbangkan ke Jakarta menggunakan Batik Air pagi,” ujar Kabid Humas Polda Bengkulu, Kombes Imam Wijayanto, Rabu, 23 September 2026.

Perjalanan terakhir itu tidak akan sendiri. Kabid Dokes Polda Bengkulu, Kombes dr. Effri Susanto, akan mendampingi langsung dari Bengkulu hingga Jakarta, sebelum estafet diserahkan kepada Polda Banten untuk dipulangkan ke rumah.

Sukarman ditemukan seorang nelayan di perairan Enggano, Bengkulu Utara, pada 12 September — hari kelima Operasi SAR gabungan. Tubuhnya dievakuasi dalam sunyi, disimpan, dan diuji. Pada 22 September, lab mengunci identitasnya.

Sementara itu, Selat Sunda masih menyimpan sisa ceritanya. Operasi SAR Arupadatu 1 telah digelar 8 hingga 18 September 2026. Sempat ada harapan ketika serpihan terpal ditemukan mengapung. Namun setelah operasi resmi dihentikan, hingga hari ini, 23 September, belum ada tanda dari lima jurnalis itu, pun dari lambung speedboat itu sendiri. Pencarian kini hanya tinggal pemantauan dan koordinasi yang dijaga tetap menyala.

Besok pagi, satu jenazah terbang ke barat. Laut Enggano melepasnya. Banten menunggunya.

Tinggalkan komentar

Sedang Tren