
Maybrat, Sketsakini.com — Distrik Aifat Timur Jauh, Maybrat, Papua Barat Daya. 25 Oktober 2026.
Di peta, itu hanya titik hijau. Di lapangan, itu adalah rimba yang basah, sungai yang berarus, dan kabut yang turun tanpa aba-aba.
Di sanalah Operasi Badai Kasuari 3.13 digelar. Bukan operasi yang ramai oleh dentuman. Melainkan operasi yang senyap — seperti nama pasukan yang menggelarnya: Hantu Laut.
Mereka adalah prajurit baret ungu, Satgas Pamtas RI-PNG Mobile Gobang VII Yonif 9 Marinir, di bawah komando Letkol Marinir Laili Nugroho. Tugas mereka satu: mengamankan tanah, menjaga manusia.
Dan pada Minggu pagi itu, 25 Oktober, badai itu datang bukan untuk menghancurkan. Tapi untuk mengakhiri sebuah pelarian panjang.
Tiga nama diamankan dalam keadaan hidup. Tanpa kontak senjata. Tanpa darah tumpah di tanah Aifat.
Nama pertama: Matias Aisassior. Di struktur yang mereka sebut Kodap IV Soraya, ia dikenal sebagai Komandan Batalyon Aikum.
Nama kedua: Yeremias Aisassior. Wakilnya. Orang kedua di batalyon yang sama.
Nama ketiga: Zakarias Aikingking. Anggota Batalyon Aikum.
Tiga orang yang selama ini disebut-sebut dalam laporan-laporan gangguan keamanan di Maybrat. Tiga orang yang hutan anggap sebagai rumahnya.
Menurut rilis resmi Dispen Kormar, operasi ini dijalankan melalui lima tahap yang rapi dan terukur: deteksi, isolasi, penindakan, pengamanan, dan serah terima. Bahasa militer yang kalau diterjemahkan ke bahasa manusia artinya: dilihat dulu dengan hati-hati, dikurung geraknya tanpa melukai warga, ditindak tanpa amarah, diamankan dengan martabat, dan diserahkan untuk diperiksa sesuai hukum.
Ini adalah kelanjutan dari rentetan operasi yang sama di bulan itu. Sebelumnya, 14 Oktober dini hari pukul 00.45 WIT, pasukan yang sama juga menjemput Wakil Panglima Kodap IV Soraya, Zakarias Fatem, di sebuah rumah. Juga tanpa perlawanan. Dalam video yang dirilis Marinir, Zakarias mengenakan kaos oranye, duduk, lalu berkata lirih: “Terima kasih, saya dikasih hidup, dikasih makan.” Ia bahkan mengajak kawan-kawannya yang masih di hutan untuk kembali.
Operasi Badai Kasuari bukan cerita tentang siapa yang menang dan siapa yang kalah. Di Maybrat, tidak ada yang benar-benar menang jika saudara masih bersembunyi di hutan.
Operasi ini adalah cerita tentang negara yang datang bukan dengan dendam, tapi dengan prosedur. Tentang prajurit-prajurit muda Marinir yang berhari-hari menembus Sungai Frambu, tidur di tanah basah, menahan lapar, agar penangkapan bisa dilakukan tanpa satu peluru pun yang salah alamat.
Tiga orang itu kini dibawa ke Kotis Satgas Gobang VII Yonif 9 Marinir. Bukan untuk dihakimi di rimba. Tapi untuk diperiksa, didengar keterangannya, dan diproses menurut hukum Indonesia.
Di akhir operasi, yang dibawa pulang bukan hanya tiga nama. Tapi juga harapan kecil: bahwa di Aifat Timur Jauh, anak-anak bisa kembali bersekolah tanpa suara tembakan di kejauhan. Bahwa bendera Merah Putih dan kain adat bisa tergantung berdampingan tanpa saling menatap curiga.
Badai Kasuari 3.13 telah lewat. Hutan kembali senyap. Dan untuk pertama kalinya setelah lama, senyap itu terasa aman.




Tinggalkan Balasan