Muhadjir Effendy.

Jakarta, Sketsakini — Dari Rakernas LPHU di Hotel Gren Alia, Tugu Tani, Jakarta, 23 Oktober 2026. Di sebuah ruangan hotel di Tugu Tani, Jumat itu, Prof. Muhadjir Effendy tidak sedang bicara soal rukun haji. Ia bicara soal dagang.

Ketua PP Muhammadiyah itu berdiri di depan Rakernas III dan Mudzakarah Nasional Perhajian III Lembaga Pembinaan Haji dan Umrah (LPHU). Judul materinya terdengar berat: Membangun Ekosistem Haji Berkemajuan. Tapi isinya sangat membumi.

“Kita ini setiap musim haji memutar uang Rp 60 sampai 70 triliun,” kata Muhadjir. Angka itu menggantung di ruangan seperti asap kemenyan yang tak hilang-hilang. Besar. Tapi pertanyaannya: berapa yang kembali ke umat?

Selama ini, kata dia, Muhammadiyah terlalu baik. Kita hanya mengantar jamaah menjadi mabrur. Kita lupa, jamaah itu juga butuh makan, butuh kain ihram, butuh selimut di Mina, butuh katering, butuh bus, butuh tempat tidur. Semua itu adalah rantai pasok. Dan rantai itu selama ini dikuasai orang lain.

Padahal, akar Muhammadiyah sendiri adalah dagang.

Muhadjir mengingatkan satu nama yang hampir lupa disebut di mimbar-mimbar: Raden Dhuri Dahlan, putra KH. Ahmad Dahlan. Ia saudagar. Dari dagangnyalah, gerakan Muhammadiyah di awal dibiayai.

“Kalau bapak-bapak sekarang ngelola haji sama sekali tidak punya visi dagang, itu berarti tidak mewarisi visi Kiai Dahlan,” tegas Muhadjir, setengah menegur, setengah merindu.

Di sinilah letak perbedaan yang ingin ia gariskan. Kalimat keramat “Hidup-hidupilah Muhammadiyah, jangan mencari hidup di Muhammadiyah” — sering disalahartikan sebagai larangan untuk sejahtera. Padahal maknanya: jangan korupsi di Muhammadiyah. Bekerja di Muhammadiyah tetap harus hidup, dan menghidupi.

Karena itu, kata Muhadjir, ekonomi Muhammadiyah bukan untuk kaya. Tapi untuk hidup.

Untuk mewujudkan itu, ia meminta LPHU tidak hanya menjadi biro pembinaan manasik. Harus ada divisi bisnis khusus. Yang memetakan: siapa yang menyediakan beras untuk katering jamaah? Siapa yang menjahit kain ihram? Siapa yang membuat perlengkapan tidur? Siapa yang mengelola Mentari Mart di asrama haji?

Ini bukan gagasan baru. Di Pamulang, 10 Oktober lalu, di Tangsel, dan di Madiun, Muhadjir bicara hal yang sama: saudagar Muhammadiyah tidak boleh jalan sendiri-sendiri. Mereka harus berjaring. Seperti Mentari Mart yang kini sudah delapan gerai dan ditargetkan dua puluh hingga akhir tahun. Toko kecil itu adalah cara Muhammadiyah berkata: kita tidak mau hanya menerima wakaf, kita ingin juga berwakaf.

“Jadi jangan hanya mengusahakan jamaah mabrur saja. Kalau bapak tidak dapat untung di lembaga itu… ah itu berarti enggak berkemajuan,” kata Muhadjir, disambut tawa jamaah yang paham.

Karena pada akhirnya, haji bukan hanya perjalanan dari Tanah Air ke Tanah Suci. Ia adalah perjalanan uang umat yang harus kembali menjadi sekolah yang gagah, rumah sakit yang tidak menolak infus, dan warung kecil yang tetap buka karena jaringannya kuat.

Itulah yang disebut Muhadjir sebagai ekosistem. Bukan kapitalistik. Tapi berkemajuan.

Tinggalkan Balasan

Sedang Tren