
SOLO, SKETSAKINI.COM — 16 Oktober 2026 — Sore. Rilis pertama Boyamin: diduga pergi ke Malaysia.
Rilis kedua — yang kami gambar tadi: kursi kosong, pesawat ke Kuala Lumpur.
Rilis ketiga — yang baru masuk sore ini — judulnya berubah 180 derajat, ditulis dengan huruf besar semua, seperti orang yang baru dapat kabar dari warung sebelah kantor kementerian:
KABAR HOT… NW BERKANTOR DI ATR BPN
KPK HARUS CEKAL NW
Isinya pendek. Nafasnya beda.
Menteri Nusron Wahid sore tadi terpantau di kantor Kementerian ATR/BTN, Jl. Sisingamangaraja, Jakarta Selatan. NW nampak santai selama berkantor, tidak kelihatan gundah gelisah. Menurut penuturan para pegawai bawahan, NW nampak percaya diri yang berbeda dengan minggu kemarin yang nampak gelisah dan gundah.
Kalimat yang kalau dibaca pelan. Minggu lalu gelisah. Sore ini percaya diri.
Seperti orang yang baru pulang dari perjalanan jauh, lalu duduk lagi di kursinya — dan kursinya masih ada.
Boyamin melanjutkan dengan kalimat yang langsung ke KPK:
Wahai KPK, silahkan segera jemput NW saat ini juga. Jika tidak berani jemput, bolehlah dikirim surat panggilan sekali lagi.
KPK harus segera terbitkan surat Cekal ke Dirjen Imigrasi untuk mencegah NW kabur lagi saat dipanggil KPK.
Dan dia tutup dengan catatan verifikasi gaya Solo:
Sebagaimana rilis sebelumnya terkait informasi bahwa hari ini atau besok NW masuk Jakarta maka setidaknya kebenaran informasi telah teruji. Mungkin besok pagi NW tetap akan ngantor di ATR BPN karena hingga saat ini belum ada agenda protokoler dinas luar.
Ini adalah cerita klasik Jakarta: Pergi — Pulang — Duduk Lagi.
Kamis pagi, 15 Oktober, namanya disebut di ruang penyidik KPK sebagai saksi yang tidak hadir karena surat dinas luar negeri ke Malaysia. KPK bilang: kalau tidak salah ke Malaysia. Boyamin bilang: diduga pergi dengan rombongan kecil.
Jumat sore, 16 Oktober, namanya disebut lagi — tapi bukan di ruang penyidik, melainkan di lobi kantornya sendiri, di Sisingamangaraja No.2. Pegawainya bilang: santai. Percaya diri. Tidak gundah.
Di antara dua hari itu, apa yang terjadi di Kuala Lumpur? Tidak ada yang tahu. Surat dinasnya tidak dipublikasi. Izin Presiden — kalau ada — tidak diumumkan. Tapi satu yang pasti: kursinya tidak kosong lagi.
Dan justru karena itu, rilis ketiga ini lebih penting dari rilis pertama.
Rilis pertama tentang dugaan kabur. Rilis ketiga tentang momentum.
Boyamin paham betul hukum acara: seorang saksi yang sudah dua kali mangkir — 7 Oktober dan 15 Oktober — dengan alasan dinas luar negeri, dan kini terlihat santai di kantornya sendiri, adalah momen emas untuk KPK menerbitkan Surat Cekal.
Cekal bukan penahanan. Cekal adalah negara bilang: tunggu dulu, jangan pergi dulu, ada pertanyaan yang belum selesai.
Karena perkara yang ditanyakan bukan perkara kecil: 8 tersangka, Rp106,3 miliar uang sitaan, dan HGB Summarecon Bogor yang patoknya kini jadi barang bukti.
KPK sudah bilang: penyidik masih mempertimbangkan jemput paksa. Tapi jemput paksa butuh keberanian politik. Cekal lebih administratif — cukup surat ke Dirjen Imigrasi.
Boyamin tahu itu. Makanya dia tulis: Wahai KPK.
Wahai — kata yang jarang dipakai dalam rilis hukum. Kata yang biasanya dipakai untuk membangunkan orang yang tertidur.
Sore ini, Nusron kembali berkantor. Besok pagi, menurut Boyamin, mungkin masih berkantor — karena tidak ada agenda protokoler luar.
Artinya: kalau mau menjemput, inilah waktunya. Sebelum surat dinas berikutnya dibuat. Sebelum pesawat berikutnya lepas landas.
Tanah di Bogor masih menunggu jawaban siapa yang memberi stempel HGB-nya.
Kursi di Sisingamangaraja sudah kembali terisi.
Tinggal satu kursi lagi yang masih kosong: kursi saksi di Gedung Merah Putih KPK.





Tinggalkan Balasan