Timika, Sketsakini.com —Triwulan III itu bukan kalender saham. Di Papua, triwulan itu dihitung dengan patroli, dengan sinyal HT yang hilang di hutan, dengan mama-mama yang berani lagi ke pasar.

Dan dalam rilis Kogabwilhan III di Timika hari ini — yang dikutip Detik Sulsel — Pangkogabwilhan III Letjen TNI Lucky Avianto bilang: ada 22 pentolan OPM dilumpuhkan dan ditangkap selama Operasi Triwulan III — Juli, Agustus, September, hingga pertengahan Oktober 2026.

Dua puluh dua. Bukan angka kecil. Bukan juga sekadar angka.

Kalau dibaca pelan-pelan, daftarnya seperti membaca struktur sebuah pemerintahan bayangan yang sedang runtuh satu per satu:

Di Kodap IV Sorong Raya / Soraya — Maybrat, Aifat Timur — yang paling banyak tumbang:

  • Manfret Fatem — Komandan Operasi. Tewas di Sungai Frambu, awal Oktober. Info A1 dari BIN, kata Lucky.
  • Anton Fatem — Komandan Batalyon Ayosami. Tewas bersama Manfret.
  • Yesias Fatem — Komandan Batalyon Mosata. Tewas juga.
  • Zakarias Fatem — Wakil Panglima Kodap IV. Diringkus hidup-hidup 00.45 WIT, 14 Oktober, di Kampung Kamat oleh Satgas Gobang VII Yonif 9 Marinir pimpinan Letkol Mar Laili Nugroho. Kaos oranye. Kalimatnya: “Saya menyerah.”
  • Yesias Mate — Danlog Kodap IV Soraya.
  • Manuel Yohanes Aimau — Wadan Ops Kodap IV.
  • Alfon Sorry — Wadan Ops Kodap IV yang lain.

Di Kodap III Ndugama — Nduga, jantung yang paling keras:

  • Army Kogoya — Danyon Aluguru.
  • Hurbianus Murip — Kepala Keuangan Kodap III D Dulla.

Di Kodap XVI Yahukimo — Pegunungan Bintang:

  • Bilip Kobak — Danops Kimpussa Kodap XVI Yahukimo.
  • Abdon Kisamdu — Wadan Yon Kodap 35 Bintang Timur. Ditangkap 19 September di Bandara Nop Goliat Dekai, saat turun dari Trigana PK-YSC. Mau beli senjata di Kali Seng, kata rilis.

Di Kodap XVII Ilaga — Puncak:

  • Jeki Murib — Danwil Kodap XVII Ilaga.

Di Kodap Mugi / Mugie — Yahukimo:

  • Ket Gwijangge — Danops Yon Mugi.
  • Peltu Usmabul — Wadanops Mugi.
  • Lau Gwijangge — Danwil Mugie (disebut di rilis Januari-Mei).

Yang lain — yang namanya tidak selalu masuk headline Jakarta:

  • Dinus Tigau — Danki Tanah Merah.
  • Serlu Wonimbo.
  • 3 anggota di wilayah Paniai — yang namanya tidak ditulis, tapi senjatanya diamankan.
  • Titus Sowe, Manfred Fatem versi penulisan lama — yang kontak tembaknya 3 September dan 9 Oktober jadi pembuka operasi.

Tiga bulan, dua puluh dua nama. Ada yang dilumpuhkan dengan timah — “tegas dan terukur,” kata akun Tri Matra TNI — ada yang ditangkap tanpa perlawanan, seperti Zakarias di rumah kayu dengan lampu petromak.

Lucky Avianto, di konferensi pers HUT ke-7 Kogabwilhan III di Timika — dihadiri Pangkodau III Marsda Azhar Aditama, Dankodaeral XI, dan Pangkoops Habema Brigjen Riyanto — tidak bicara tentang balas dendam. Kalimatnya sama seperti Mei lalu, saat ia umumkan 12 tokoh pertama dilumpuhkan:

“Kami ingin memastikan mama-mama bisa ke pasar dengan tenang, anak-anak bisa sekolah dengan ceria, dan pembangunan di Papua terus melaju tanpa gangguan.”

Di lapangan, itu artinya: puluhan pucuk senjata api, ratusan butir amunisi, senjata tajam, alat komunikasi, dokumen, atribut Bintang Kejora diamankan. Dan beberapa prajurit — kata Lucky — gugur. “Pengorbanan mereka adalah bukti cinta tanpa batas kepada NKRI.”

Operasi Triwulan III tidak selesai di hutan. Ia selesai di sebuah rumah kayu jam 00.45, dengan seorang kakek berkaos oranye yang bilang ke anak-anaknya yang masih di hutan: turunlah, dikasih makan dan minum.

Dua puluh dua nama itu — kalau ditulis di peta Papua — adalah dua puluh dua titik api yang padam. Satu per satu. Tidak bersamaan. Tidak spektakuler. Tapi pelan-pelan.

Dan setelah itu, pasar di Timika buka lagi pagi ini.

Tinggalkan Balasan

Sedang Tren