KAMAT, AIFAT TIMUR, Sketsakini.com — Hutan sebelah utara Kampung Kamat tidak ada di Google Maps secara jelas. Tapi Jumat pagi, 9 Oktober 2026, namanya masuk berita.

Bukan karena panen. Karena baku tembak.

Kontak tembak terjadi saat personel gabungan — Satgas TNI di bawah Koops Habema — melaksanakan pengamanan wilayah. Tidak sedang mencari, sedang menjaga. Tapi di hutan, yang menjaga sering kali harus bertempur.

Kata Pangkoops TNI Habema Brigjen TNI Riyanto, Jumat ini, pukul sekian:

“Dalam peristiwa tersebut, tiga orang dari kelompok bersenjata OPM dilaporkan meninggal dunia di lokasi kejadian.”

Tiga orang. Di tanah basah utara Aifat Timur, Maybrat, Papua Barat Daya.

Satu nama di antaranya, yang selama dua minggu terakhir menjadi buronan utama, kini teridentifikasi:

Manfret Fatem. Danops OPM Kodap IV/Sorong Raya. Manfret Fatem oleh TPNPB diberi pangkat letnan kolonel.

Orang yang Sabtu malam 3 Oktober lalu kabur setelah dua anak buahnya — Arso Aisnak dan Yohanes KY, duo algojo itu — tewas ditembak. Orang yang katanya memimpin hujan peluru pertama ke arah TNI. Hari ini dia tidak kabur lagi.

Bersamanya, dua nama lain masih dalam verifikasi, tapi struktur menyebutnya:

Yesias Fatem — diduga Danyon Mosata Kodap IV/Soraya.
Antonius Assem alias Anton Fatem — diduga Danyon Ayosami Kodap IV/Sorong Raya.

Tiga Fatem. Satu hutan. Satu pagi. Tewasnya Fatem dibenarkan juru bicara TPNPB, Sebby Sambom. “Ya benar. Dia gugur,” katanya.

“Proses verifikasi masih terus dilakukan untuk memastikan identitas dan keterkaitan masing-masing individu,” kata Riyanto. Kalimat standar. Tapi di baliknya ada kehati-hatian: Papua tidak butuh salah sebut nama.

Tidak ada korban dari pihak TNI, kata laporan sementara. Syukur.

Yang diamankan dari lokasi tidak lagi revolver tua seperti minggu lalu. Kali ini lebih lengkap:

Satu pucuk AK-101. Munisi 5,56 mm sebanyak 30 butir. Munisi 9 mm. Dua unit telepon seluler. Atribut kelompok OPM. Bendera Bintang Kejora. Satu dokumen OPM. Dan sejumlah perlengkapan pendukung lainnya.

AK-101. Bukan senjata rakitan. Senjata yang jalan dari pasar gelap, dari perbatasan, dari entah mana — yang akhirnya berhenti di hutan Kamat.

Riyanto menutup dengan dua kalimat yang selalu ada dalam setiap rilis TNI di Papua — tapi kali ini terasa perlu diulang:

Pengamanan wilayah akan terus dilakukan. Dan di sisi lain, pendekatan dialog, pembinaan teritorial, sinergi dengan pemerintah daerah dan tokoh masyarakat tetap dikedepankan.

Artinya: senjata tetap siaga, tapi pintu balai desa tetap dibuka.

Sketsakini mencatat Jumat ini begini:

Jika minggu lalu di Aifat, Manfret Fatem kabur ke hutan. Maka hari ini di Kamat, hutan itu sendiri yang menahannya. Tidak lagi sebagai tempat lari, tapi sebagai tempat jatuh.

Tiga orang meninggal. Tiga struktur Kodap IV. Di antaranya, seorang Danops yang selama ini disebut pimpinan.

Hutan utara Kamat kembali senyap setelah tembakan. Yang tersisa hanya AK-101 yang sudah tidak ada pemiliknya, dua HP yang mungkin masih menyimpan foto, dan satu bendera yang tidak sempat dikibarkan.

Dan pasukan yang kembali melakukan pengamanan lokasi, mencegah gangguan lanjutan, sambil menunggu kabar: apakah Maybrat bisa tidur lebih nyenyak malam ini, lebih lama dari malam sebelumnya?

Tinggalkan Balasan

Sedang Tren