
Jakarta, Sketsakini.com- Pada sebuah Selasa yang muram, tanggal tiga di bulan November tahun dua ribu dua puluh enam, langit Jakarta seolah ikut menahan napas. Dari lorong-lorong senyap Markas Besar Kepolisian, merambatlah sebuah desas-desus — lirih pada mulanya, lalu bergemuruh laksana genderang yang dipukul tanpa terlihat penabuhnya.
Kabar itu bertutur tentang pengamanan internal. Tentang sejumlah perwira tinggi yang dikisahkan telah dibawa dalam diam menuju Mako Brimob di Kelapa Dua, Depok. Nama-nama pun mulai disebut-sebut dalam bisik yang beredar: Irjen Pol. Ahrie Sonta, sang Kepala Divisi Hukum yang juga pernah menjadi ajudan Presiden Prabowo, Irjen Pol. Eko Hadi Santoso, Widyaiswara Utama Sespim Lemdiklat, serta Kombes Pol. Ferly Hediyat.
Namun pusaran isu itu menjadi semakin dalam ketika sebuah nama yang amat dikenal ikut terseret dalam arus: Jenderal Pol. (Purn) Listyo Sigit Prabowo, mantan Kapolri yang kini disebut mengemban amanah sebagai Kepala Staf Kepresidenan. Dalam naskah tak resmi yang berseliweran, ia digambarkan sebagai sosok berinisial “L” — sang jenderal bintang empat yang konon sempat dimintai keterangan lalu dipulangkan.
Dan di atas semua itu, ada tuduhan yang paling sensitif, paling berat untuk diucapkan: dugaan penyadapan terhadap lingkungan Istana. Ada yang menyebut Presiden Prabowo, ada yang menyebut Seskap Teddy, ada pula yang menunjuk sebuah rumah di Kompleks Widya Chandra sebagai panggung rahasia dari operasi senyap tersebut.
Adalah Divisi Profesi dan Pengamanan, Divpropam, yang dikisahkan menjadi aktor dalam operasi senyap itu, bergerak antara pukul satu hingga tiga dini hari, mengakhiri geraknya hanya satu bulan setelah tongkat komando Kapolri beralih kepada Jenderal Suyudi Ario Seto.
Di Mana Garis Antara Kabar dan Kebenaran?
Maka di sinilah sastra harus tunduk pada etika: membedakan mana yang merupakan gemuruh kabar, dan mana yang telah menjadi batu karang kebenaran.
Hingga Selasa sore, 3 November 2026, inilah status verifikasinya:
- Irjen Ahrie Sonta ditahan — Belum dikonfirmasi oleh Mabes Polri
- Irjen Eko Hadi Santoso ditahan — Belum dikonfirmasi oleh Mabes Polri
- Listyo Sigit menjalani BAP — Belum dikonfirmasi oleh Mabes Polri
- Adanya dugaan penyadapan Istana — Belum ada bukti, belum ada penjelasan resmi tentang siapa disadap, alat apa, siapa memerintah
- Isu penangkapan sejumlah jenderal — Diakui sedang ramai, namun belum dibenarkan Mabes Polri
Sumber utama dari seluruh narasi ini, sebagaimana ditelusuri, hanyalah pemberitaan yang mengutip sumber anonim dan tangkapan layar percakapan WhatsApp yang telah diteruskan berulang kali. Ia belum dapat diperlakukan sebagai bukti penahanan, apalagi keterlibatan seseorang dalam tindak pidana. d541
Kepala Divisi Humas Polri, Irjen Pol. Johnny Eddizon Isir, ketika dimintai keterangan di Mabes Polri, tidak membenarkan, tidak pula membantah dengan tegas. Hanya sebaris kalimat yang ia titipkan kepada publik:
“Nanti kami cek proses evaluasinya ya, seperti itu.” b2d7
Di lain kesempatan, ia mengajak untuk menjaga kondusivitas ruang publik, terutama pasca aksi di Yogyakarta pada 28 Oktober lalu.
Penutup: Kabut yang Belum Tersibak
Demikianlah, wahai pembaca, kita berdiri di hadapan sebuah drama kekuasaan yang masih berselimut kabut. Ada ketegangan internal yang terasa, ada operasi senyap yang dikisahkan, ada nama-nama besar yang diseret oleh arus isu. Namun belum ada palu yang diketuk, belum ada pernyataan resmi yang mengikat kabar menjadi fakta.
Jika penyadapan terhadap Istana itu benar adanya, ia adalah luka pada jantung negara. Jika ia hanya kabar liar, ia adalah ujian bagi kejernihan akal kita bersama.
Hingga Mabes Polri bersuara dengan terang, hingga bukti dipertontonkan, biarlah kita menjadi pembaca yang arif: tidak menolak kemungkinan, tidak pula menelan mentah-mentah setiap bisik yang lewat di beranda media sosial.





Tinggalkan Balasan