Sketsakini.com dari Maybrat — 3 Oktober 2026, malam.

Hutan di utara Distrik Aifat Selatan tidak mengenal jam. Di sana, gelap datang lebih dulu dari kalender. Dan pada Sabtu malam itu, patroli gabungan — Rajawali V, Yonif 9 Marinir, di bawah Koops Habema — membaca gelap itu lewat teknologi dan bisik lapangan.

Mereka mencari satu nama yang sudah lama menempel di tanah itu: Manfred Fatem. Danops Kodap IV Sorong Raya. Orang yang sejak 2021, sejak penyerangan Posramil Kisor yang menewaskan empat prajurit, menjadi bayangan bagi Maybrat.

Kali ini, bayangan itu terlihat. Dekat pemukiman, kata BIN.

Sebelum peluru, ada ajakan. Letakkan senjata. Menyerah. Begitu keterangan resmi Pangkogabwilhan III, Letjen Lucky Avianto. Tapi ajakan itu, katanya, dijawab dengan hujan peluru. Yang pertama menembak, kata Lucky, adalah Manfred sendiri.

Lalu balasan.

Ketika senyap kembali, dua tubuh tertinggal di lantai hutan.

Arso Aisnak — disebut Komandan Wilayah Pertahanan II Kodap IV Sorong Raya.
Yohanes Kiy — disebut Komandan Batalyon Karef Hamit.

Dua nama yang dalam siaran TNI disebut sebagai “duet maut”, eksekutor dari banyak kekerasan atas perintah Manfred.

Manfred-nya sendiri? Lolos. Bersama sisa kelompoknya, larut kembali ke dalam hutan Aifat yang lebat, yang selalu lebih luas dari peta mana pun.

Di lokasi kontak, tertinggal barang-barang yang kini jadi daftar barang bukti: satu pucuk revolver, sepuluh butir munisi, beberapa senjata tajam, sebuah HT, dua lembar bendera Bintang Kejora, dan peluru senapan mesin yang tidak sempat ditembakkan.

Tidak ada korban dari prajurit, tulis rilis itu. Syukur Alhamdulillah atas lindungan Tuhan Yang Maha Esa.

Di Maybrat, setiap kontak senjata selalu meninggalkan dua cerita. Satu tentang negara yang menjaga pembangunan agar tetap kondusif. Satu lagi tentang tanah yang belum selesai berdamai dengan dirinya sendiri.

Maybrat adalah kabupaten yang terkurung daratan, paling terpencil di Papua Barat Daya. IPM 60,49. Titik terdekat ke laut 30 kilometer. Di tempat seperti itu, negara hadir dalam bentuk pos, patroli, dan Kodim. Dan sebagian warga, sejak 2020, menolaknya — tapi pos itu tetap dibangun.

Malam itu, di Aifat Selatan, negara dan bayangannya bertemu lagi. Dua orang tidak pulang. Satu nama besar menghilang lagi ke dalam hutan.

Dan hutan tetap diam. Menyimpan semuanya — peluru, bendera, dan nama — di bawah kanopi yang tidak pernah benar-benar terang.

Tinggalkan komentar

Sedang Tren