SKETSAKINI.COM — WAMENA- Rabu siang, 30 September 2026. Jam makan siang di Berema, Wamena. Seorang tukang bakso mendorong motornya yang menggendong dandang panas, melintasi debu jalan kota yang tak pernah benar-benar damai.

Pukul 13.30 WIT, ia jatuh. Bukan karena lelah. Tapi karena peluru.

Kamis, 1 Oktober 2026, hutan bicara. Manajemen Markas Pusat KOMNAS TPNPB merilis siaran pers. Jubir Sebby Sambom menyampaikan: Kodap XVI Yahukimo bertanggung jawab.

Dalam rilis itu tertulis nama Mayor Makar Sobolim dan Lampion Heluka sebagai pelapor dari medan Wamena. Mereka menyebut korban adalah agen intelijen militer Indonesia yang menyamar sebagai penjual bakso, yang telah diikuti selama dua bulan karena disebut-sebut mencari informasi keberadaan TPNPB. Perintah eksekusi, klaim mereka, datang dari Komandan Operasi Umum TPNPB, Mayor Jenderal Lekagak Telenggen.

Rilis itu ditutup dengan empat nama penanggung jawab: Jenderal Goliath Tabuni sebagai Panglima Tinggi, Letjen Melkisedek Awom sebagai Wakil, Mayjen Terianus Satto sebagai Kasum, dan Mayjen Lekagak Telenggen sendiri.

http://Sketsakini.com mencatat: klaim bahwa korban adalah intel adalah klaim sepihak TPNPB. Hingga hari ini, tidak ada bukti, tidak ada identitas resmi, tidak ada konfirmasi dari Polres Jayawijaya maupun Kodim 1702/Jayawijaya. Di Papua, frasa “agen intel berkedok tukang bakso” telah menjadi pola narasi yang berulang setiap kali warga sipil pendatang tewas.

Siapa Dia?

Yang diketahui dari lokasi: seorang pria dewasa, warga pendatang, penjual bakso keliling bermotor, beraktivitas di kawasan Berema.

Nama? Belum ada.
Asal? Belum ada.
Umur, alamat KTP, keluarga yang menunggu di rumah? Belum ada dalam rilis resmi manapun.

Yang ada hanya dandang yang mungkin masih hangat saat pemiliknya tergeletak.

Di Wamena, tukang bakso bukan sekadar penjual makanan. Dia adalah tetangga, penanda bahwa ekonomi kecil masih berjalan di antara pos dan honai. Dia yang hafal gang, hafal nama anak, hafal siapa yang suka pedas.

Ultimatum di Atas Luka

Dalam rilis yang sama, TPNPB Kodap XVI Yahukimo mengeluarkan peringatan terbuka bagi warga imigran Indonesia — tukang bakso, tukang bangunan, penjual sayur, tukang ojek, nakes, ASN, pedagang kaki lima, hingga sopir taksi — untuk meninggalkan wilayah konflik bersenjata di Tanah Papua, khususnya Kota Wamena.

Mereka menyebut tidak ada lagi jaminan keamanan. http://Sketsakini.com tidak mengutip ancaman itu secara utuh karena mengandung seruan kekerasan.

Perlu dicatat: pernyataan yang dikaitkan TPNPB kepada Panglima TNI soal nakes dan guru adalah pelintiran klaim TPNPB sendiri, bukan kutipan resmi dari institusi TNI.

Catatan Redaksi http://Sketsakini.com:

Hukum perang yang paling dasar: gerobak bakso tidak pernah menjadi target militer yang sah. Jika seseorang diduga sebagai intel, maka harus ada proses pembuktian, bukan eksekusi di jalan pada jam makan siang.

Wamena hari ini kembali mencatat luka horizontal — luka di mana sesama warga sipil saling mencurigai, karena perang yang tak pernah selesai.

http://Sketsakini.com masih menunggu rilis identitas korban dari aparat. Jika Anda adalah keluarga atau kerabat penjual bakso motor yang hilang kontak sejak Rabu siang 30 September di Berema, segera hubungi Polres Jayawijaya.

Tinggalkan komentar

Sedang Tren