
Tanjung Morawa, Sketsakini.com — Syahdan, di bawah langit Tanjung Morawa yang mulai menggelap pada Minggu senja, 18 Oktober 2026, Jalan Limau Mukur, Desa Bangun Rejo, mendadak menjadi panggung tragedi. Bukan panggung wayang, melainkan panggung peluru. Dan di sanalah, nyawa Doni Pa’cek, anggota Ormas Pemuda Pancasila, direnggut paksa.
Kisah ini bukan tentang heroisme. Ini tentang dendam yang disulut, konvoi yang memburu, dan dua letusan yang memantul kembali kepada tuannya sendiri.
Polisi menyebutnya kasus pembunuhan. Tapi bagi mereka yang ada di TKP, ini adalah karma yang meletus dua kali.
Subdit III Jatanras Ditreskrimum Polda Sumut akhirnya membuka tabir. Dua eksekutor berhasil diciduk, bukan di tempat terang, tapi setelah bersembunyi di semak dan kebun sawit.
Mereka adalah Dwika Anggara Cipta alias DAC, sang pengemudi motor, dan Afriandi Anas Limbong alias AAL, si pembonceng yang menarik pelatuk.
Dirreskrimum Polda Sumut, Kombes Cornelius Mangarahon Simanjuntak, menuturkan kronologi itu dengan nada datar, namun setiap kalimatnya adalah peluru kedua.
BABAK I: SUMBU DI BANDAR LABUHAN
Semua bermula pukul 18.00 WIB, di Jalan Bandar Labuhan, Komplek Puskop ABRI, Desa Bandar Labuhan. Rumah Feri, yang juga anggota Pemuda Pancasila, diserang.
Terduga penyerangnya adalah kelompok Doni Kiboy, yang disebut-sebut dari Keluarga Besar FKPPI.
Feri yang kalap, mengirim pesan darurat ke Grup KOTI PP — Komando Inti Pemuda Pancasila Kabupaten Deli Serdang. Sebuah pesan yang berbunyi: Kita diserang.
Dan pesan itu disambut seperti genderang perang.
Doni Pa’cek tidak berpikir dua kali. Ia mengumpulkan pasukannya: Juanda, Muhammad Hatta, Muhammad Dio, dan Indra Wijaya. Mereka naik ke satu mobil Toyota Yaris. Doni di balik kemudi. Indra di kiri. Juanda, Dio, dan Hatta berjejal di belakang.
Di belakang Yaris itu, 8 sepeda motor ormas mengiringi. Membawa apa? Polisi mencatat: senjata tajam, senapan angin rakitan. Mereka bergerak, bukan untuk berdamai, tapi untuk membalas.
BABAK II: SALIPAN MAUT DI JALAN LIMAU MUKUR
Di tengah jalan menuju rumah Feri, dengan kecepatan 30-40 Km/jam dan kaca jendela terbuka, takdir menyalip mereka.
Dari belakang, sebuah motor melesat. Di atasnya DAC dan AAL.
Menurut pengakuan di ruang penyidik, sebelum aksi, DAC telah berbisik kepada AAL di atas motor yang melaju:
“Ini ada senjata api di pinggangku, sudah kukokang. Nanti tolong tembak.”
Sebuah kalimat pendek yang menjadi vonis mati.
Begitu motor mereka sejajar dengan Yaris Doni, AAL menarik pistol dari pinggang DAC, mengarahkan, dan — Dor!
Satu peluru. Satu peluru itu menembus telinga kanan Doni Pa’cek, keluar lewat leher kiri, lalu bersarang di paha kiri Indra Wijaya yang duduk di sampingnya.
Doni kejang-kejang di balik kemudi. Darah. Jeritan.
Indra yang terluka di paha, mengambil alih kemudi dengan sisa tenaga, menginjak gas dalam-dalam untuk mengejar.
BABAK III: KETIKA PISTOL MENGKHIANATI TUANNYA
Di sinilah hukum alam yang ironis itu bekerja. Pelarian dua eksekutor berubah menjadi komedi tragis berdarah.
Kombes Cornelius mengisahkannya begini:
“Menjelang jatuh, ketika AAL hendak mengembalikan senpi ke pinggang DAC, senjata tersebut meletus dan mengenai paha kanan DAC.”
Belum selesai.
Mobil Yaris yang dikemudikan Indra dengan liar akhirnya menabrak motor pelaku hingga tersungkur. Motor itu oleng, manusia di atasnya terpelanting.
Dan di saat jatuh itulah, pistol yang masih digenggam AAL kembali meletus untuk kedua kalinya.
“Saat terjatuh, senjata yang masih dipegang, meletus kembali dan mengenai punggung DAC.”
Dua kali meletus. Dua kali mengenai rekannya sendiri. Paha kanan dan punggung DAC bolong oleh senjata yang ia bawa sendiri.
Setelah itu, keduanya menyeret luka, berlari terpincang-pincang ke dalam gelapnya semak-semak dan kebun sawit Tanjung Morawa, meninggalkan motor, meninggalkan Yaris yang juga telah menabrak 8 kendaraan warga dan tiang listrik di ujung jalan.
Doni Pa’cek tewas di tempat. Indra Wijaya terluka. Dan para eksekutor, terluka oleh senjatanya sendiri.
Syahdan, peluru memang tidak punya mata. Tapi kadang, ia punya ingatan untuk kembali kepada siapa yang melepaskannya.
Kini kedua eksekutor itu telah diamankan. Drama Limau Mukur pun tamat, tapi menyisakan satu pelajaran tua di tanah Deli Serdang: Siapa yang berangkat membawa besi panas untuk memburu nyawa, terkadang pulang dengan besi itu masih panas di tubuhnya sendiri.




Tinggalkan Balasan