Surakarta, Sketsakini — Keraton Surakarta, 22 Oktober 2026. Kamis itu, Siti Hinggil Utara menjadi lebih hening dari biasanya.

Bukan di bangsal utama seperti lazimnya, doa bersama setahun wafatnya Sinuhun Pakubuwono XIII digelar di sini — di emper yang lebih lapang, lebih sederhana. Sekitar 350 abdi dalem duduk bersila. Kerabat keraton merapat. Semua menundukkan kepala, memanjatkan tahlil untuk raja yang berpulang 2 November 2025 lalu, di usia 77 tahun.

Di depan mereka, Sinuhun Pakubuwono XIV memimpin doa. Suaranya pelan, tapi gema kejawen-nya sampai ke sela-sela kayu keraton yang sudah berumur ratusan tahun.

Ada alasan mengapa tempatnya berpindah. Kata Pengageng Sasana Wilapa, GKR Koes Moertiyah Wandansari — Gusti Moeng — bangsal yang biasa dipakai sedang menampung barang-barang museum yang dipindahkan.

“Tempat yang biasanya digunakan sedang dimanfaatkan untuk menampung barang-barang museum yang dipindahkan. Karena itu, pelaksanaan kegiatan perlu disesuaikan,” ujar Gusti Moeng lembut.

Keraton memang sedang menata diri. Sejak 16 Oktober lalu, revitalisasi Keraton Kilen dikebut — tersisa 86 hari menuju tenggat. Pagar pengaman mulai dipasang. Barang-barang pusaka digeser. Bahkan lampu kristal besar di Keraton Kilen dan dua lampu kristal berbentuk biola di pendapa utama disebut-sebut tidak lagi di tempat semula, padahal pendataan BPK sebelumnya mencatatnya masih ada.

Di tengah penataan yang agak gaduh itu, doa tetap berjalan tertib.

Gusti Moeng menutup dengan satu kalimat yang lirih: “Semoga almarhum memperoleh ketenangan dan kelapangan di alam keabadian.”

PB XIII dikenang bukan hanya sebagai raja. Ia adalah anak sulung dari 35 anak PB XII, yang naik takhta di tengah perpecahan keraton 2004-2012, lalu mendamaikan dua kubu dengan mengakui Tedjowulan sebagai Mahapatih. Dua dekade pemerintahannya adalah upaya merawat gamelan agar tidak bisu, menjaga Bedhaya Ketawang agar tetap sakral, dan membuat abdi dalem tetap merasa punya rumah.

Kini setahun setelah kirab layon dalem yang menyebarkan udik-udik di sepanjang Jalan Slamet Riyadi menuju Imogiri, Keraton kembali diuji. Bukan oleh dualisme takhta, tapi oleh pertanyaan yang lebih pelik: bagaimana merawat warisan sambil membangun kembali dindingnya?

Jawabannya mungkin ada di doa Kamis kemarin. Bahwa pusaka boleh dipindahkan, ruangan boleh disesuaikan, pagar revitalisasi boleh berdiri — asal ikatan kekeluargaan dan ingatan kepada leluhur tidak ikut dipindahkan.

Karena Keraton bukan hanya bangunan. Ia adalah ingatan yang dijaga bersama.

Tinggalkan Balasan

Sedang Tren