Kenyam, Papua, Sketsakini.com- Di Nonggoloit, Langit Kenyam Kembali Menyimpan Dua Nama: Keli Giban dan Cat Gibanumat, 23 Oktober 2026. Jam belum Di menunjukkan siang, tapi Kampung Nonggoloit, Kenyam, Nduga sudah terlalu bising untuk ukuran sebuah kampung yang biasanya hanya mengenal suara anak-anak dan sungai.

Pagi itu Satgas Rajawali VI Den 1 Koops Habema bergerak. Bukan untuk perang. Patroli. Menindaklanjuti informasi bahwa ada kelompok bersenjata di dekat permukiman warga. Di Nduga, kalimat “di dekat permukiman warga” selalu berarti satu hal: warga harus didahulukan.

Menurut Panglima Kogabwilhan III, Letjen TNI Lucky Avianto, dari atas, sebuah drone merekam semuanya. Beberapa orang terlihat menyiapkan senjata.

Di bawah, di tanah becek Nonggoloit, prajurit sudah berteriak. “Menyerah!”

Jawaban yang datang bukan kata-kata. Peluru.

“Sebelum peristiwa tersebut terjadi, pasukan TNI sudah berupaya meminta mereka untuk menyerah, namun imbauan ini dijawab dengan tembakan peluru tajam secara membabi buta ke arah pasukan TNI, yang ditembakkan oleh Keli Giban dan Cat Giban bersama empat orang anggota OPM lainnya,” kata Lucky.

Dan kontak tembak pun pecah. Singkat. Keras. Selesai.

Ketika asap tipis senapan sudah hilang, di tanah tergeletak dua tubuh. Keli Giban dan Cat Giban. Dua nama dari Batalyon Wesem, Kodap III Ndugama-Nderakma.

TNI menyebut mereka anggota OPM. Pihak seberang akan menyebut mereka warga sipil. Di Papua, perdebatan itu selalu datang setelah peluru.

Yang tertinggal di lokasi bercerita lebih jujur dari sekadar klaim.

Di sana ada dua pucuk senapan angin yang dimodifikasi untuk menembakkan peluru tajam, empat kotak amunisi, busur dan anak panah, senjata tajam, 18 unit telepon seluler, Handy Talky, dokumen, atribut kelompok, dan bendera Bintang Kejora. Dan uang tunai Rp 88 juta, terlipat rapi, basah oleh tanah Nduga.

Anggota kelompok lainnya melarikan diri ke dalam hutan, seperti biasa. Hutan Nduga selalu punya pintu belakang untuk mereka yang kalah.

Brigjen TNI Riyanto, Pangkoops Habema, tidak merayakan.

“Kami menyayangkan adanya korban jiwa dalam peristiwa ini. Setiap nyawa memiliki nilai yang harus dihormati. Namun setiap ancaman bersenjata terhadap keselamatan masyarakat dan aparat harus ditangani secara tegas dan profesional,” ujarnya, Sabtu (25/10).

Kalimatnya mengulang apa yang selalu diulang di setiap kontak tembak di Nduga: selektif, terukur, profesional. Karena tujuan akhirnya bukan menambah hitungan jenazah.

“Tujuan utama kami adalah menjaga keamanan agar masyarakat dapat menjalani kehidupannya tanpa rasa takut,” kata Riyanto lagi.

Di Nonggoloit, malam kembali turun. 18 ponsel yang disita itu diam. Tidak ada lagi yang menelepon Keli dan Cat.

Dan di Kenyam, seorang ibu mungkin menutup pintu rumahnya sedikit lebih rapat malam ini, tidak tahu apakah yang terjadi tadi pagi membuatnya lebih aman, atau justru lebih takut.

Tinggalkan Balasan

Sedang Tren