Jayapura, Sketsakini.com- Mereka datang tanpa parade. Pergi tanpa sorak. Tapi rimba tahu siapa yang berjalan di dalamnya.

Oktober 2026. Papua tidak sedang baik-baik saja.

Di balik kabut tebal Distrik Aifat Selatan, Maybrat, Papua Barat Daya, di antara pohon-pohon yang tak pernah selesai menghitung hujan, sebuah operasi senyap digelar. Namanya tidak pernah ditulis di baliho. Pasukannya tidak pernah dipamerkan di televisi.

Mereka adalah Rajawali V. Gobang VII Yonif 9 Marinir. Elang VI. Mandala VI. Pasgat. Nama-nama sandi yang hanya dimengerti oleh peta operasi dan doa ibu-ibu yang menunggu di rumah.

Pada 3 Oktober, Koops Habema menyergap. Dua anggota kelompok bersenjata OPM Kodap Sorong Raya tumbang. Satu pucuk revolver, sepuluh butir amunisi, satu handy talky, dan selembar Bintang Kejora diamankan dari tanah yang berlumpur darah.

Lalu, 16-17 Oktober, jejak lain ditemukan. Senjata laras panjang Caracal — senjata yang dulu dirampas KKB dari prajurit TNI — ditemukan kembali bersama 17 butir peluru kaliber 5,56 mm. Seperti menemukan kembali kehormatan yang sempat hilang di hutan.

Puncaknya, Satgas Pamtas RI-PNG Mobile Gobang VII Yonif 9 Marinir menangkap seorang nama besar: Zakarias Fatem, yang disebut sebagai Wakil Panglima Kodap IV Soraya. Dua senjata yang dulu dirampas, direbut kembali.

Operasi itu bukan hanya soal senjata. Di Kampung Fuog, Distrik Aifat, tangan-tangan yang sama yang memegang senapan itu memperbaiki jembatan. Jembatan untuk anak-anak berangkat sekolah. Untuk ibu-ibu ke kebun. Untuk orang sakit menuju puskesmas.

Dan negara, untuk pertama kalinya dalam waktu lama, tidak lupa.

Kamis, 22 Oktober 2026. Gedung Serba Guna Yonif 754/ENK, Timika, Papua Tengah. Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto berdiri di depan barisan yang tidak lengkap.

Hanya lima prajurit Marinir hadir sebagai perwakilan. Sisanya? 44 orang masih di rimba. Masih menjaga pos. Masih belum bisa pulang.

Di hadapan mereka, Keputusan Panglima TNI Nomor Kep. 1273/X/2026 dan Kep. 1307/X/2026 dibacakan. Angkanya bukan 29 seperti judul yang beredar di kanal-kanal berita instan. Angkanya jauh lebih besar: 136 prajurit.

49 personel Marinir Gobang VII. 46 prajurit dari Operasi Badai Kasuari 3.10 — 15 Rajawali V, 25 Yonif 9 Marinir, 6 Elang VI. 30 prajurit dari Badai Kasuari 3.9. 22 prajurit dari operasi Bandara Yahukimo dan Sentani — 9 dari Satgas Intelijen Mandala VI dan 13 Pasgat. 14 dari operasi Penggalangan Distrik Mulia. 17 dari Badai Kasuari 3.11.

Semua mendapat Kenaikan Pangkat Luar Biasa (KPLB).

“Pengabdian seorang prajurit tidak hanya diukur dari keberhasilan dalam melaksanakan tugas, tetapi juga dari ketulusan hati dalam menjaga amanah bangsa dan negara,” kata Agus Subiyanto, dengan suara yang menggema di aula yang setengah kosong itu. 4edc

Panglima Korps Marinir, Letjen TNI (Mar) Dr. Endi Supardi, menambahkan kalimat yang seharusnya dihafal semua orang yang duduk di kursi empuk Jakarta:

“Kenaikan pangkat ini harus menjadi motivasi untuk terus menjaga disiplin, meningkatkan profesionalisme, dan melaksanakan setiap amanah dengan penuh tanggung jawab demi bangsa dan negara.” aaa8

Tidak ada pasukan rahasia. Yang ada hanyalah pasukan yang bekerja dalam senyap, dan baru diingat ketika pangkat di pundak mereka bertambah satu strip.

136 nama. 136 cerita yang tidak akan pernah kita dengar lengkapnya. Karena sebagian besar dari mereka, saat tulisan ini dibuat, masih di sana — di rimba Papua, di bawah hujan, menjaga agar bendera yang di Istana itu tetap berkibar.

Tinggalkan Balasan

Sedang Tren