
Jakarta, Sketsakini.com — Bundaran HI, 29 Oktober 2026. Ada dua demo di Bundaran HI minggu ini. Satu yang asli, satu yang dibuat-buat. Dan negara, seperti biasa, lebih sayang pada yang dibuat-buat.
Tanggal 28 Oktober, mahasiswa beneran datang. Dari Trisakti, dari UI, dari kampus-kampus yang jas almamaternya bau keringat dan fotokopian skripsi. Mereka berorasi soal UUD 1945, soal ijazah, soal putusan MK yang baru saja bilang: Gibran cuma punya sertifikat kehadiran, bukan ijazah.
Sebelum mereka sempat teriak, mereka sudah diangkut. Seorang pendemo berinisial G mengaku baru turun dari halte bus, belum sempat buka mulut, sudah diminta diam dan dibawa ke Polda Metro Jaya. Alasannya klasik: perlu diperiksa.
Polisi melayani mereka dengan makan dan penginapan gratis di Polda. Baik, memang. Tapi aspirasi mereka tetap ditahan di luar pagar Bundaran.
Tanggal 29 Oktober, esoknya, negara bikin demo tandingan. Judulnya gagah: Deklarasi Sumpah Pemuda Mahasiswa Indonesia 2026. Temanya lebih gagah lagi: Patriotik, Gigih, Berempati: Pemuda untuk Indonesia.
Diundanglah 100 mahasiswa. Dan dua bintang tamu: Utusan Khusus Presiden Bidang Pembinaan Generasi Muda dan Pekerja Seni, Raffi Ahmad, dan konten kreator Willie Salim. Difasilitasi Polda Metro Jaya dan TNI. Panggungnya sama — Bundaran HI. Bedanya, kali ini tidak ada yang ditangkap. Semua dirangkul.
Sampai kemudian kamera wartawan menyorot satu pria berjas almamater Universitas Dian Nusantara (Undira). Ditanya: kamu mahasiswa mana? Jurusan apa? Angkatan berapa? Ia gagap. Lidahnya seperti jasnya — kebesaran, bukan ukurannya.
Video itu viral. Dan pada malam harinya, kebenaran membuka jaketnya sendiri.
“Saya Bayu Setiadi alias Dino. Saya bukan mahasiswa Universitas Dian Nusantara. Saya mengikuti acara deklarasi Sumpah Pemuda di Bundaran HI pada 29 Oktober 2026 berdasarkan undangan dari Komunitas dan saya dibayar. Mengenai almamater yang saya kenakan itu diberikan kepada saya tanpa saya ketahui asal usulnya,”
Bayu alias Dino mengaku. Ia massa bayaran. Dibayar untuk jadi mahasiswa. Dibayar untuk jadi pemuda. Dibayar untuk bersumpah.
Ia lalu ditangkap — bukan oleh polisi — tapi oleh Ormawa Undira yang asli. Anak-anak Undira yang merasa kampusnya dicatut. Mereka tidak mengintimidasi, mereka memberi ruang klarifikasi, mereka jamin keamanannya. Lebih beradab dari aparat.
Bayu minta maaf. “Mohon maaf sebesar-besarnya kepada Universitas Dian Nusantara. Ini murni kesalahan saya yang tidak teliti menindak suatu pekerjaan.”
Sebuah kalimat yang jujur dari seorang pekerja lepas.
Lalu di mana Raffi Ahmad? Dalam video lain yang juga viral, saat ia berpidato tentang gerakan anti-hoaks, seorang pria di kerumunan mengacungkan tiga jari ke arahnya. Simbol yang belakangan jadi bahasa perlawanan. Pria itu langsung diamankan petugas.
Ironi yang sempurna: di panggung yang katanya melawan hoaks, ada mahasiswa palsu yang mengaku dibayar. Di panggung yang katanya merayakan Sumpah Pemuda, pemuda yang mengacungkan jari malah dibungkam.
Raffi Ahmad akhirnya buka suara pada 31 Oktober: “Saya hanya diundang. Saya baru tahu acaranya sehari sebelumnya. Saya terbuka terhadap kritik yang didasarkan pada fakta, bukan tuduhan atau fitnah.”
Pengamat militer Connie Rahakundini Bakrie membalas lewat surat terbuka di Instagram: “Raffi, kamu orang baik dan punya akal sehat. Bedakan kepentingan bangsa dan keuntungan jangka pendek. Kekuasaan itu sementara. Jangan hilangkan hati nurani hanya karena dekat dengan kekuasaan. Jelaskan siapa yang mengorganisir dan membiayai acara ini.”
Inilah yang mencubit dari Sketsakini:
Sumpah Pemuda 1928 dulu diucapkan dengan darah dan air mata, di sebuah rumah di Kramat Raya yang sempit dan pengap. Tidak ada catering, tidak ada artis, tidak ada Polda yang menjaga. Hanya 3 sumpah.
Sumpah Pemuda 2026 diucapkan di Bundaran HI dengan jas sewaan, dengan massa bayaran, dengan Utusan Khusus Presiden yang sambil endorse. Dan ketika pemuda asli datang sehari sebelumnya, mereka diangkut. Ketika pemuda palsu datang, mereka difoto.
Bayu Setiadi alias Dino mungkin memang bukan mahasiswa. Tapi ia adalah guru terbaik hari ini. Ia mengajarkan kita satu mata kuliah yang tidak ada di Undira, tidak ada di UI, tidak ada di Trisakti:
Mata Kuliah Almamater Sewa Harian — SKS: Sehari, dengan harga yang bahkan ia sendiri tidak tahu asalnya.
Dan di atas panggung itu, di bawah patung Selamat Datang yang tangannya terbuka, seseorang mengacungkan tiga jari. Bukan untuk menyambut. Tapi untuk mengingatkan: kami masih ada, meski kalian sewa semua jaket di kota ini.




Tinggalkan Balasan