
Jakarta, Sketsakini.com — Bundaran HI, 29 Oktober 2026. Kramat, 31 Oktober 2026. Namanya Sari Putri. Umurnya 22 tahun.
Dua hari yang lalu, ia berdiri di Bundaran HI, di samping Utusan Khusus Presiden Raffi Ahmad dan kreator konten Willie Salim, mengenakan jas almamater biru berlogo BSI, membacakan narasi imbauan damai. Kamera merekamnya. Ia tidak menyebut nama kampusnya. Ia tidak perlu. Jas itu sudah berbicara untuknya.
Jas itu berkata: saya mahasiswa.
Padahal ia bukan.
Sabtu, 31 Oktober 2026, Sari akhirnya buka suara. Bukan di panggung. Bukan di Bundaran HI. Tapi lewat sebuah video pendek yang diunggah akun Instagram Keluarga Besar Mahasiswa UBSI Dewi Sartika, @kbm_ubsi.dws. Suaranya pelan. Kalimatnya ia hafal, seperti orang yang sudah berlatih meminta maaf berkali-kali di depan cermin sebelum berani merekamnya:
“Atas nama saya Sari Putri memohon maaf kepada seluruh mahasiswa UBSI atas polemik yang terjadi terkait penggunaan almamater berlogo lama BSI dalam kegiatan deklarasi sumpah pemuda di Bundaran HI.”
Lalu kalimat kedua, yang lebih berat dari yang pertama:
“Dengan ini saya menegaskan bahwa saya bukan mahasiswa aktif UBSI.”
Dan kalimat ketiga, yang seharusnya membuat kita semua berhenti sejenak dan bertanya, bukan kepada Sari, tapi kepada negeri ini:
“Almamater yang saya gunakan merupakan pemberian dari seseorang yang tidak saya kenal, dan bukan merupakan identitas resmi saya sebagai mahasiswa.”
Pemberian dari seseorang yang tidak dikenal.
Bayangkan. Seorang perempuan 22 tahun, di Kramat, Jakarta Pusat, didatangi oleh mahasiswa-mahasiswa UBSI yang asli, yang datang ke rumahnya untuk meminta penjelasan. Ia duduk di depan mereka, dan ia berkata: jas ini diberikan orang tak dikenal. Ia disuruh memakainya. Ia tidak diberitahu dampaknya. Ia tidak diberitahu risikonya.
KBM UBSI menulis itu dalam pernyataannya. Bahwa Sari diduga disuruh mengenakan almamater itu tanpa diberitahu apa akibatnya. Dan KBM mengecam pihak yang menyuruhnya, dan menuntut pertanggungjawaban.
Tapi siapa pihak itu? Sampai hari ini, tidak ada yang tahu. Tidak ada yang mengaku. Penyelenggara acara — Polda Metro Jaya — belum memberikan tanggapan resmi tentang siapa yang menyediakan almamater itu, siapa yang mengundang Sari, siapa yang menyuruhnya membaca narasi damai itu.
Yang mengaku hanya Sari. Yang meminta maaf hanya Sari. Yang bertanggung jawab, katanya, hanya Sari.
“Saya menyadari bahwa penggunaan almamater tersebut telah menimbulkan kesalahpahaman dan berdampak pada nama baik institusi. Atas hal tersebut, saya memohon maaf sebesar-besarnya dan bertanggung jawab atas tindakan saya.”
Padahal, jas yang ia kenakan pun bukan jas UBSI yang berlaku sekarang. Wakil Rektor II UBSI, Adi Supriyatna, menjelaskan dengan sangat teliti, seperti seorang dosen yang sedang menjelaskan kepada mahasiswa yang tidak hadir di kelas: logo itu adalah logo lama, dari masa institusi masih berbentuk akademi, Bina Sarana Informatika, yang sudah tidak digunakan sejak UBSI berstatus universitas pada 2018. Delapan tahun yang lalu.
Jadi jas itu bukan hanya pinjaman. Ia adalah jas dari masa lalu. Jas yang sudah pensiun. Jas yang diambil dari gudang, atau dari lemari seseorang, lalu dipakaikan ke badan seorang perempuan yang bukan pemiliknya, untuk sebuah acara yang mengatasnamakan mahasiswa yang bukan mahasiswa.
Dan UBSI, dengan suara yang sama tegasnya, membantah semuanya:
“Pihak UBSI, baik di tingkat Rektorat maupun Organisasi Kemahasiswaan, tidak pernah menerima undangan dan tidak mengirimkan delegasi mahasiswa dalam kegiatan Deklarasi Sumpah Pemuda di Bundaran HI pada Kamis (29/10) tersebut.”
Tidak pernah menerima undangan. Tidak pernah mengirim delegasi.
Lalu siapa yang mengirim Sari?
Sari bukan satu-satunya. Di sampingnya, ada Bayu Setiadi, yang memperkenalkan diri sebagai Dino, mengenakan jas almamater Universitas Dian Nusantara, Undira. Ia lebih jujur, atau lebih berani, atau lebih tidak tahan: pada Jumat, 30 Oktober 2026, difasilitasi BEM Undira, ia mengaku, “Saya mengikuti acara Deklarasi Sumpah Pemuda di Bundaran HI pada 29 Oktober 2026 berdasarkan undangan dari komunitas dan saya dibayar.”
Saya dibayar.
Dua orang. Dua jas pinjaman. Satu dibayar, satu diberi jas oleh orang tak dikenal. Keduanya meminta maaf kepada kampus yang namanya mereka pakai. Keduanya menegaskan mereka bukan mahasiswa. Keduanya tidak mewakili siapa-siapa, kecuali diri mereka sendiri yang kebingungan.
Dan di antara mereka, berdiri Raffi Ahmad, yang sudah mengklarifikasi bahwa ia hanya tamu undangan, tidak terlibat perencanaan, tidak terlibat pengerahan. Dan Willie Salim, yang hanya datang. Dan polisi, yang menggelar acara itu sehari setelah aksi mahasiswa dan masyarakat sipil pada 28 Oktober di lokasi yang sama, aksi yang membakar banner dan melempar botol pilox di depan Plaza UOB, aksi yang menuntut hal yang sama: kejujuran.
Inilah yang paling menyedihkan dari cerita Sari, jika dibaca dengan sastra, bukan dengan hukum:
Sumpah Pemuda, 28 Oktober 1928, dibacakan oleh pemuda-pemuda yang mempertaruhkan nyawa mereka untuk sebuah identitas: satu nusa, satu bangsa, satu bahasa. Sembilan puluh delapan tahun kemudian, Sumpah Pemuda dibacakan ulang di tempat yang sama, oleh seorang perempuan yang identitasnya pun bukan miliknya. Jasnya pinjaman. Logonya sudah kadaluarsa. Narasinya ditulis orang lain. Dan ia tidak tahu siapa yang memberinya jas itu.
Ia meminta maaf kepada mahasiswa UBSI. Tapi seharusnya, yang meminta maaf kepadanya adalah negeri ini, yang telah membuatnya percaya bahwa memakai jas orang lain untuk membacakan sumpah adalah sebuah pekerjaan yang wajar. Yang telah membuatnya percaya bahwa identitas bisa diberikan oleh orang tak dikenal, seperti kaos gratis di sebuah acara.
Sari sudah bertanggung jawab. Ia sudah berkata, “tindakan saya tidak mewakili UBSI.”
Kini giliran kita bertanya, dengan suara yang sama pelannya dengan suara Sari ketika ia meminta maaf:
Siapa yang memberikan jas itu? Siapa yang membayar Bayu? Siapa yang menulis narasi damai itu? Dan mengapa, untuk merayakan Sumpah Pemuda, negara ini merasa perlu meminjam mahasiswa, meminjam jas, meminjam sumpah, padahal mahasiswa yang asli sedang berdiri di jalan yang sama, sehari sebelumnya, dengan jas mereka sendiri, dengan suara mereka sendiri, tanpa dibayar siapa pun?
Sari sudah pulang ke Kramat. Jas itu mungkin sudah dikembalikan, atau sudah disimpan. Tapi pertanyaan itu belum pulang. Ia masih berdiri di Bundaran HI, mengenakan jas pinjaman, menunggu seseorang yang berani mengaku: akulah orang tak dikenal itu.
Sampai orang itu mengaku, Sari akan tetap menjadi satu-satunya orang yang meminta maaf, untuk sebuah kebohongan yang bukan ia ciptakan sendiri.




Tinggalkan Balasan