Maybrat, Sketsakini.com — Dari rimba Papua Barat Daya, ada hutan yang bernama Aisnak. Di Distrik Moskona, Kabupaten Teluk Bintuni, Papua Barat Daya. Di sana, ia tidak hanya menyimpan pohon. Ia menyimpan persembunyian.

Selama berbulan-bulan, Satgas Yonif 9 Marinir Koops Habema di bawah Kogabwilhan III mengintai. Bukan dengan bising. Dengan sabar. Seperti pemburu yang menunggu jejak keluar dari hutan.

Pada Rabu, 29 Oktober 2026, jejak itu keluar.

Seorang lelaki muncul dari Hutan Aisnak. Namanya Matius Aisasior. Di kalangan TPNPB-OPM, ia dipanggil Komandan Batalyon Aikum, Kodap IV Sorong Raya. Bersama kelompoknya yang berafiliasi dengan jaringan Kopitua Heluka — juga disebut jaringan Denni Moss — ia dituduh melakukan banyak luka: penyerangan pos keamanan, penyerangan pekerja proyek Jalan Trans Bintuni, intimidasi kepada orang asli Papua sendiri.

Matius berjalan keluar dari hutan, menuju satu rumah kecil di Kampung Framneway — kadang ditulis Franeway — di Distrik Aifat Timur Jauh, Kabupaten Maybrat. Di rumah itu, dua orang sudah menunggu: wakilnya, Yeremias Aisasior, dan seorang anggota, Zakarias Aikingking.

TNI mengikuti. Tidak mengepung dengan teriakan. Tidak dengan rentetan tembakan.

Pangkogabwilhan III, Letjen TNI Lucky Avianto, dalam keterangannya Jumat, 30 Oktober 2026, memakai satu kata yang jarang dipakai dalam berita-berita seperti ini: persuasif.

“Personel langsung melakukan penyergapan dengan cara persuasif dan ketiganya akhirnya menyerahkan diri tanpa perlawanan,” kata Lucky.

Tiga orang. Seorang komandan batalyon, wakilnya, dan anggotanya. Menyerah. Tanpa perlawanan. Tanpa darah tumpah di Kampung Framneway sore itu.

Itulah yang membuat berita ini berbeda.

Biasanya, cerita dari Maybrat selalu tentang kontak senjata. Tentang hutan yang bergema peluru. Kali ini, tentang rumah kecil yang pintunya diketuk, dan tiga orang yang keluar dengan tangan terangkat, memilih hidup.

Lucky Avianto kemudian tidak hanya mengumumkan penangkapan. Ia mengajak:

“Pimpinan, anggota, dan simpatisan OPM untuk menghentikan perlawanan bersenjata serta kembali bergabung dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia.”

Karena tugas Satgas Yonif 9 Marinir bukan hanya menangkap Matius Aisasior. Tugasnya adalah membuat agar tidak ada lagi Matius-Matius lain yang harus bersembunyi di Hutan Aisnak.

Di Maybrat, hari itu, perang tidak dimenangkan dengan peluru. Ia dimenangkan dengan menunggu. Dengan memantau. Dengan mengetuk pintu secara persuasif, dan memberi kesempatan untuk menyerah tanpa perlawanan.

Dan di Kampung Framneway, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, malam turun tanpa suara tembakan. acb0a16d

Tinggalkan Balasan

Sedang Tren