Jakarta, Sketsakini.com- Antartika — Jakarta, Jaraknya 9.000 Kilometer, Tetapi Airnya Sama. Di ujung dunia yang paling selatan, ada sebuah gletser yang dijuluki Gletser Kiamat.

Namanya Thwaites. Luasnya setara Florida, setara hampir tiga kali Pulau Jawa. Ia terletak di Antartika Barat, di tempat yang sangat terpencil hingga manusia hanya bisa menatapnya lewat satelit.

Sebuah studi terbaru yang diterbitkan Oktober 2026 di jurnal Nature Communications oleh University of California Irvine dan NASA Jet Propulsion Laboratory mengatakan: ia mencair lebih cepat dari yang pernah kita duga. Bahkan, dua kali lipat.

“Kami menemukan bahwa Thwaites bisa menyumbang hingga 3 cm kenaikan muka laut global pada 2100, bahkan tanpa pemanasan tambahan,” kata peneliti utama Mattia Poinelli.

Angka 3 sentimeter itu terdengar kecil. Tetapi setiap sentimeter kenaikan muka laut mengancam 6 juta orang di seluruh dunia dengan banjir rob. Dan Thwaites sendiri menyimpan es yang cukup untuk menaikkan muka laut global lebih dari 60 cm jika runtuh seluruhnya — dan hingga 3 meter jika ia menyeret seluruh Lapisan Es Antartika Barat di belakangnya.

Mengapa ia mencair lebih cepat?

Karena selama ini kita salah membayangkan garisnya. Kita membayangkan garis landasan — titik di mana es yang menempel di tanah terangkat dan mulai mengapung — sebagai sebuah garis yang tetap, seperti garis pantai di peta.

Ternyata ia bukan garis. Ia adalah zona.

Zona grounding yang lebarnya bermil-mil. Di sana, air laut yang hangat, yang dipanaskan oleh perubahan iklim, masuk dan keluar mengikuti pasang surut, dalam proses yang disebut tidal pumping. Air hangat itu menyusup jauh ke bawah es, mencairkannya dari dalam, seperti air yang menetes ke dalam tembok rumah hingga tembok itu rapuh dari dalam.

Model lama tidak memasukkan fenomena ini. Maka model lama meremehkan Thwaites.

Kini, model baru menunjukkan: ada 60% peluang Thwaites akan terlepas dari Mouginot Ridge — sebuah punggungan bawah laut yang menahannya — sebelum akhir abad ini. Jika punggungan itu lepas, gletser akan meluncur ke laut lebih cepat. Tidak dapat ditarik kembali.

Di dunia yang lain, di sebuah kota di garis khatulistiwa, seorang ibu di Muara Karang, Jakarta Utara, menatap air yang masuk ke rumahnya setiap bulan purnama. Ia tidak tahu nama Thwaites. Ia tidak tahu apa itu Mouginot Ridge. Tetapi ia tahu air itu tidak lagi mau pergi.

Jakarta adalah kota yang sedang tenggelam dari dua arah sekaligus.

Dari atas, dari laut global, air naik karena Thwaites dan gletser-gletser lain di Greenland dan Antartika mencair. NASA memperkirakan muka laut global akan naik 0,9 hingga 1,8 meter pada 2100.

Dari bawah, dari tanahnya sendiri, Jakarta turun. Penelitian Institut Teknologi Bandung (ITB) dan World Economic Forum menunjukkan tanah Jakarta turun 2 hingga 25 cm per tahun, dengan Jakarta Utara sebagai yang paling parah. Sekitar 60% kebutuhan air warga masih bergantung pada air tanah, karena layanan air perpipaan belum menjangkau semua. Air diambil, tanah memadat, tanah amblas.

Seolah-olah laut naik, tanah turun, dan mereka bertemu di tengah-tengah rumah warga.

“Sebagian besar kota Jakarta dapat terendam air pada 2050 mendatang,” tulis WEF dalam laporannya.

Di Jakarta Utara, penelitian memperkirakan 95% wilayah akan terendam air laut pada 2050 jika tren ini terus berlanjut. Sekitar 40% wilayah Jakarta sudah berada di bawah permukaan laut, hanya dilindungi oleh tanggul. Banjir rob yang dulu hanya terjadi setahun sekali, kini datang setiap bulan. Tanggul di Pantai Mutiara sudah mulai rembes.

Jakarta tidak akan tenggelam seperti Atlantis, yang hilang dalam satu malam. Ia akan tenggelam seperti lilin yang meleleh — perlahan, satu sentimeter demi satu sentimeter, satu genangan demi satu genangan, satu keluarga yang harus meninggikan lantai rumahnya lagi, dan lagi, hingga mereka menyerah.

Dan di Antartika, Thwaites masih mencair. Ia tidak peduli apakah kita memanggilnya Gletser Kiamat atau tidak. Ia hanya meluncur, retak, dan melepaskan esnya ke laut. Air itu kemudian melakukan perjalanan sejauh 9.000 kilometer, dari samudra selatan ke Laut Jawa, dan akhirnya mengetuk pintu rumah di Muara Karang, di Pluit, di Cilincing.

Di Antartika, es menangis. Di Jakarta, air naik.

Mereka adalah cerita yang sama, hanya ditulis di dua benua yang berbeda.

Sumber: Antara / Nature Communications, Oktober 2026; NASA, ITB, World Economic Forum.

Tinggalkan Balasan

Sedang Tren