
Ancol — Kartasura — Gatak, Sketsakini.com- 7 Oktober hingga 21 Oktober 2026. Semua berawal dari 20 koli. Di Pergudangan Kereta Api Kampung Bandan, Ancol, Jakarta Utara, pada 7 Oktober 2026, Bea Cukai Jakarta menemukan 20 koli yang mencurigakan. Di dalamnya: 650 ribu butir Tramadol. Pil putih kecil yang jika dijual di pinggir jalan harganya murah, tetapi jika dikonsumsi tanpa resep, bisa membuat otak lupa cara berhenti.
Dari 20 koli itulah, polisi menelusuri dokumen pengiriman, rekaman CCTV, jejak ekspedisi, hingga menemukan jalan yang membawanya ke Jawa Tengah.
Ke Kabupaten Sukoharjo. Ke dua kecamatan yang namanya biasa saja: Kartasura dan Gatak. Di sana, bukan rumah. Bukan toko. Pabrik.
Pabrik yang tidak ada papan namanya. Pabrik yang mesinnya tidak berhenti.
“Dalam pengungkapan ini kami menyita barang bukti Tramadol dan Trihexyphenidyl sebanyak 7.862.500 butir yang sudah jadi,” kata Dirresnarkoba Polda Metro Jaya Kombes Bismo Teguh Prakoso, dalam konferensi pers di Mapolda Metro Jaya, Rabu (21/10/2026).
Angka itu jika dibaca pelan-pelan menjadi ngeri. 7,8 juta butir. Jika satu butir untuk satu orang, maka itu adalah jumlah yang hampir sama dengan populasi Jakarta Selatan. Jika satu orang mengonsumsi 10 butir sehari, maka itu adalah persediaan untuk 786 ribu hari kegilaan.
Di Kartasura, pabrik itu memproduksi Tramadol. 1.485.000 butir tablet putih siap packing. 2.372.500 butir siap edar. Di Gatak, 12 kilometer jauhnya, pabrik lain memproduksi Trihexyphenidyl — pil yang dalam dunia medis dipakai untuk Parkinson, tetapi di jalanan dipakai untuk membuat dunia menjadi bergetar, untuk membuat tubuh lupa sakit dan lupa takut.
Polisi juga menyita 29 ton bahan baku — 13 item, cair dan padat, 270 liter di antaranya cairan — dan mesin-mesin besar: mesin pres, mesin pencampur, mesin cetak obat. Mesin yang seharusnya membuat obat untuk menyembuhkan, kini membuat obat untuk melupakan.
16 orang diamankan. 11 di Kartasura, 5 di Gatak. Mereka bukan bandar besar. Mereka adalah pekerja. Orang yang tangannya berdebu putih karena bekerja 12 jam di depan mesin. Orang yang mungkin tidak tahu apa yang mereka buat, selain bahwa setiap hari mereka mencetak ribuan pil yang akan berakhir di tangan anak-anak muda di Jakarta, di Bekasi, di seluruh Jawa.
“Kita tidak boleh hanya melihat di hilir. Sumber produksinya harus kita putus. Dengan membongkar pabriknya, kita berupaya memutus mata rantai peredaran sejak dari sumbernya,” tegas Kapolda Metro Jaya Komjen Pol Dadang Hartanto.
Dua orang lagi masih dicari. Pemilik dan pengendali. Orang yang mungkin tidak pernah menyentuh pil itu, tetapi uangnya — Rp9 miliar uang tunai yang disita — adalah uang dari 7,8 juta butir lupa.
Tramadol dan Trihexyphenidyl adalah obat keras. Bukan narkotika, tetapi efeknya sama mengerikannya jika disalahgunakan. Tramadol menekan sistem saraf, membuat orang merasa tidak sakit, tetapi juga membuat jantung berdebar, kejang, dan jika overdosis, berhenti. Trihexyphenidyl membuat orang halusinasi, agresif, dan tidak bisa membedakan kenyataan dengan mimpi.
Di kampung-kampung, pil ini dijual dengan nama-nama jalanan: pil koplo, pil sapi, pil anjing. Harganya Rp5 ribu sampai Rp15 ribu. Murah. Lebih murah dari segelas kopi. Dan itu yang membuatnya berbahaya: anak-anak bisa membelinya.
Kapolri Jenderal Suyudi Ario Seto menjadikan pemberantasan obat keras ini sebagai salah satu quick wins Polri. Tetapi perang ini tidak akan selesai dengan menggerebek satu pabrik. Karena selama ada permintaan, akan ada pabrik lain yang tumbuh.
Di Sukoharjo, pabrik itu kini sudah diam. Mesinnya berhenti. Tumpukan pil putihnya sudah disita. Tetapi di suatu tempat, di sebuah gang di Jakarta Barat, di sebuah warung di pinggir jalan, seseorang masih menawarkan pil putih kecil itu kepada anak muda yang sedang patah hati, yang sedang stres, yang sedang ingin lupa.
7.862.500 butir telah diamankan. Tetapi berapa juta butir lagi yang masih beredar, yang tidak pernah ditemukan?
Pabrik itu telah dibongkar. Namun pabrik terbesar yang memproduksi kecanduan bukanlah di Kartasura atau Gatak. Ia berada di dalam kesepian, di dalam tekanan hidup, di dalam keputusasaan anak-anak muda yang tidak tahu harus ke mana.
Dan itu yang paling sulit dibongkar.




Tinggalkan Balasan