TUBAN,SKETSAKINI.COM — MESKIPUN DARI  11 OKTOBER,  MASIH BERGEMA SAMPAI 18 OKTOBER.

Pondok Sunan Bejagung itu tidak sedang mengadakan pengajian biasa sore itu. Ahad, 11 Oktober 2026. Di atas panggung, ada kick-off Hari Santri 2026 PWNU Jawa Timur, ada peluncuran Institut Kiai Haji Abdul Matin, ada wisuda Ma’had Aly. Dan di tengah semua itu, ada Rais Aam PBNU, KH Miftachul Akhyar — orang yang dalam struktur Syuriyah adalah puncak paling tinggi — mengutip satu ayat terakhir dari Surah Al-Fath, ayat 29.

Ayat tentang tanaman.

كَزَرْعٍ أَخْرَجَ شَطْأَهُ فَآزَرَهُ فَاسْتَغْلَظَ فَاسْتَوَىٰ عَلَىٰ سُوقِهِ…

Sebagai perumpamaan: Islam tumbuh seperti benih yang mengeluarkan tunas, lalu menguat, lalu tegak di atas tangkainya, membuat kagum petani dan membuat marah orang-orang kafir. Indah. Sastrawi sekali kalau dibaca pelan.

Masalahnya, kata seorang kiai kampung dari Situbondo, cara membacanya tidak indah.

Namanya HRM Khalilur R Abdullah Sahlawiy — di kalangan akar rumput dipanggil Gus Lilur. Ia bukan Rais, bukan Katib, bukan pengurus harian PBNU. Ia menulis dari pinggir, seperti kebanyakan kiai kampung: pakai rekaman NU Online Jatim sebagai bukti, pakai mushaf sebagai hakim.

Gus Lilur menulis empat catatan:

Pertama, yang terdengar “fastaqladhahu” — lafaz yang, kata dia, tidak ada dalam mushaf. Yang ada: fa-azarahu fastaghlazha — lalu dia menguatkannya, lalu dia menjadi besar.

Kedua, pengulangan “fastawa” tanpa “fastaghlazha” sebelumnya — seperti melompat pagar sebelum menguatkan tiang.

Ketiga, “sukbih” — kata yang ia bilang bukan kata Arab — seharusnya “suqihi” — tangkai-tangkainya. Satu huruf, beda makna. Suq itu pasar, suq dengan qaf itu batang.

Keempat, penutupnya: yang terdengar “fa yaghidu bihi mulku kuffar” — maka menjadi marah dengannya kerajaan orang kafir. Sementara teksnya: “liyaghiizha bihimul-kuffar” — agar Allah membuat jengkel orang kafir karena mereka.

Empat catatan itu, di tangan Gus Lilur, bukan sekadar tajwid. Ia tarik menjadi etika jabatan:

“Al-Qur’an bukan puisi yang bisa dibaca sesuka hati. Ayatnya memiliki lafadz yang jelas. Kalau ada bagian yang keliru, tunjukkan bagian yang keliru dan perbaiki berdasarkan mushaf serta kaidah bacaannya. Jangan mengubah kritik ilmiah menjadi perkara suka atau tidak suka kepada seseorang.” f5aa

Dan karena itu, ia minta: Rais Aam mundur.

Di sini, Sketsakini berhenti sejenak. Karena ada dua tradisi NU yang bertabrakan di Tuban hari itu.

Tradisi pertama: ta’dzim. Kepada Rais Aam, kepada kiai sepuh yang hafalannya sudah berpuluh tahun mengasuh pesantren. Salah baca satu-dua huruf dalam majelis umum bukan hal yang membatalkan kealiman. Lisan bisa tergelincir. Ingatan bisa lelah. Adab kita: husnudzan, tabayun, dan kalau perlu, diingatkan secara halus di belakang, bukan di depan kamera.

Tradisi kedua: tashih. Bahwa Al-Qur’an dijaga dengan tashih. Siapa pun yang membacanya di atas mimbar — apalagi mimbar Hari Santri yang direkam NU Online dan disaksikan ribuan santri — harus siap dikoreksi. Tidak ada jabatan yang membuat bacaan menjadi kebal dari mushaf.

Gus Lilur memilih tradisi kedua. Ia kiai kampung yang percaya: kalau ayatnya salah, ya katakan salah. Soal mundur atau tidak, itu soal adab organisasi. Tapi soal bacaan, itu soal adab kepada Al-Qur’an.

Dan ia melakukannya dengan cara NU yang paling tua: tidak dengan cacian, tapi dengan perbandingan teks. Ia putar videonya, ia buka mushafnya, ia tulis latinnya.

Apakah desakan mundur itu terlalu keras? Mungkin.

Tapi di situlah letak sastra dari peristiwa ini: seorang Rais Aam mengutip ayat tentang tanaman yang tumbuh — dari benih kecil menjadi besar dan tegak di atas tangkainya — untuk menggambarkan kebangkitan santri.

Dan seorang kiai kampung mengingatkan: agar tanaman itu tegak, tangkainya — suqihi — harus disebut dengan benar.

Kick-off Hari Santri 2026 sudah selesai di Tuban. Institut Inkama sudah diluncurkan. Wisuda sudah dilakukan.

Tapi ayat itu masih tertinggal di udara Tuban, menunggu siapa yang mau memperbaiki cara menyebut tangkainya.

Tinggalkan Balasan

Sedang Tren