
Tasikmalaya, Sketsakini.com — 1 November 2026. Di sebuah kota yang tidak pernah meminta menjadi panggung, sebuah nama dihapus tanpa suara.
Bukan dicoret dengan tinta merah. Bukan diumumkan dengan pengeras suara. Bukan dibatalkan dengan konferensi pers yang panjang. Nama itu hanya, tiba-tiba, tidak ada lagi. Seperti sebuah janji yang ditarik kembali sebelum sempat diucapkan. Seperti sebuah kursi yang disiapkan, lalu diam-diam dipindahkan ke gudang.
Nama itu adalah RANS Carnival. Dan di sampingnya, Cipungland.
Keduanya semula dijadwalkan hadir di Plaza Asia Tasikmalaya, Jawa Barat, pada 14 sampai 15 November 2026. Keduanya semula sudah naik ke kalender event mal itu, sudah ditulis, sudah diumumkan, sudah ditunggu. Lalu, pada Minggu, 1 November 2026, akun Instagram resmi mal itu mengunggah kalender terbarunya. Dan di tanggal yang sama, di tempat yang seharusnya ada karnaval itu, hanya ada satu kata: Zumba.
Zumba. Satu kata yang ringan, yang riang, yang tidak membawa beban apa-apa. Satu kata yang, dalam konteks ini, terdengar seperti sebuah pengganti yang terlalu sopan untuk sebuah kepergian yang terlalu gaduh.
Seorang manajer, Roni Apriliansyah, Manajer Operasional Plaza Asia Tasikmalaya, membenarkan apa yang sudah dilihat oleh mata banyak orang. Ia berkata, dengan kalimat yang dijaga agar tidak melukai siapa-siapa, bahwa agenda itu untuk sementara dibatalkan, untuk sementara di-cancel dulu, sambil menunggu keputusan dari RANS Entertainment.
“Untuk sementara di tanggal 14-15 November 2026 kita sudah naikkan di kalender event akan ada acara Cipungland sama Rans Karnaval, tapi kita cancel dulu,” ujarnya, Senin, 2 November 2026.
Dan ia menambahkan, komunikasi dengan manajemen RANS masih berjalan dengan baik. RANS belum memutuskan. Mal masih menunggu. Keputusan final akan dibahas dalam rapat internal. Sebuah kalimat yang, kalau dibaca pelan-pelan, adalah kalimat yang berdiri di antara dua tebing: di satu sisi, keinginan untuk tetap menjaga hubungan. Di sisi lain, keinginan untuk tetap menjaga kota.
Karena alasan yang kemudian disebut, dalam laporan-laporan lain, bukan lagi soal jadwal. Alasannya adalah kondusivitas. Sebuah kata yang, di Indonesia, sering dipakai ketika sebuah kota tidak ingin menjadi berita berikutnya. Sebuah kata yang berarti: kami tidak ingin ribut. Kami tidak ingin gaduh. Kami tidak ingin menjadi Jogja yang kedua.
Dan untuk memahami mengapa sebuah kota di Priangan Timur itu memilih Zumba daripada karnaval, kita harus pergi, sebentar, ke dua kota lain. Ke Jakarta, lebih dulu. Lalu ke Yogyakarta. Karena kalender di Tasikmalaya itu tidak dihapus di Tasikmalaya. Ia dihapus di Jakarta, pada sebuah Kamis pagi. Dan ia dihapus untuk kedua kalinya di Yogyakarta, pada sebuah Sabtu siang.
BUNDARAN HI, JAS ALMAMATER DAN NAMA-NAMA YANG BUKAN MAHASISWA
Hari itu adalah Kamis, 29 Oktober 2026. Sehari sebelumnya, Rabu, 28 Oktober 2026, mahasiswa dari berbagai kampus turun ke jalan, dalam peringatan Hari Sumpah Pemuda yang ke-98. Mereka membawa aspirasi. Mereka membawa suara. Mereka membawa, seperti yang selalu dibawa oleh mahasiswa, sebuah keyakinan bahwa jalanan masih bisa menjadi tempat untuk bicara.
Keesokan paginya, di tempat yang sama-sama bundar, di Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta Pusat, sebuah acara lain digelar. Namanya: Deklarasi Sumpah Pemuda Mahasiswa Indonesia 2026. Penyelenggaranya: Polda Metro Jaya. Temanya: “Patriotik, Gigih, Berempati: Pemuda untuk Indonesia.” Tujuannya, menurut klaim awal, untuk mempererat persatuan dan menangkal penyebaran hoaks.
Di antara tamu-tamunya, ada seorang laki-laki yang namanya terlalu dikenal untuk tidak dikenali: Raffi Ahmad, pendiri RANS Entertainment, yang kini juga menjabat sebagai Utusan Khusus Presiden Bidang Pembinaan Generasi Muda dan Pekerja Seni. Di sampingnya, ada Willie Salim, ada Chika Jessica, ada grup musik Moluccan Soul. Ada aparat. Ada kamera. Ada panggung.
Dan ada jas-jas almamater.
Jas itu yang kemudian menjadi masalah. Karena jas, di Indonesia, bukan sekadar kain. Jas almamater adalah sebuah sumpah yang dijahit. Ia berkata: aku belajar di sini. Aku bagian dari kampus ini. Aku membawa nama kampus ini ke jalanan. Dan ketika jas itu dipakai oleh orang yang bukan mahasiswa kampus itu, jas itu berubah menjadi sebuah kostum. Dan kostum itu, ketika dipakai di depan kamera, berubah menjadi sebuah kebohongan yang bisa dilihat oleh mata telanjang.
Seorang laki-laki memperkenalkan dirinya sebagai Dino dari BSI, sambil mengenakan jas Universitas Dian Nusantara, Undira. Ia menyebut nama PSI, padahal jasnya Undira. Ia gelagapan ketika ditanya. Lalu, dalam sebuah video klarifikasi bersama organisasi kemahasiswaan Undira, ia membuka nama aslinya: Bayu Setiadi.
“Saya Bayu Setiadi alias Dino. Saya di sini hendak mengklarifikasi bahwa saya bukan mahasiswa Universitas Dian Nusantara. Saya mengikuti acara Deklarasi Sumpah Pemuda di Bundaran HI pada 29 Oktober 2026 berdasarkan undangan dari komunitas dan saya dibayar,” katanya. Jas itu, katanya, diberikan oleh penyelenggara, tanpa ia ketahui asal-usulnya.
Seorang perempuan, Sari Putri, 22 tahun, tampil membacakan narasi imbauan damai, mengenakan jas Universitas Bina Sarana Informatika, UBSI. Jas itu memakai logo lama, logo ketika institusi itu masih berbentuk akademi, sebelum menjadi universitas pada 2018. Dalam video klarifikasi yang diunggah akun Keluarga Besar Mahasiswa UBSI Dewi Sartika, Sabtu, 31 Oktober 2026, Sari menegaskan ia bukan mahasiswa aktif UBSI. Ia meminta maaf. Ia disebut, dalam penelusuran warganet dan mantan majikannya, sebagai mantan asisten rumah tangga.
Seorang perempuan lain, Vrisma Nurhalizah, mengenakan almamater Universitas Terbuka, UT, lalu menyampaikan permohonan maaf dan mengaku bukan mahasiswa UT, melainkan hadir karena undangan dan imbalan uang.
Tiga nama. Tiga jas. Tiga pengakuan. Dan satu pertanyaan yang tidak kunjung dijawab sampai hari ini: dibayar oleh siapa, dengan uang siapa, dan untuk apa jas itu harus dipakai?
Di media sosial, beredar pula tangkapan layar pesan berantai yang menyebut ajakan mendatangi arena dengan kompensasi uang saku Rp50.000 sampai Rp100.000. Angka itu belum terverifikasi sebagai fakta yang berdiri sendiri. Tapi ia beredar, dan ia dibaca, dan ia dipercaya oleh orang-orang yang sudah terlalu sering melihat pola yang sama: massa yang dihadirkan, bukan massa yang hadir.
Polda Metro Jaya, melalui Kabid Humas Kombes Budi Hermanto, akhirnya meminta maaf, Sabtu, 31 Oktober 2026. “Atas nama Polda Metro Jaya, kami meminta maaf kepada seluruh masyarakat. Kami memahami kegiatan tersebut menimbulkan beragam tanggapan, dan setiap kritik yang disampaikan kami terima dengan lapang dada untuk menjadi evaluasi,” katanya. Ia menegaskan, Raffi dan Willie datang atas undangan penyelenggara, berniat baik, tidak mengatur acara. Dan Polda kini mendalami dugaan pengerahan peserta itu melalui penyelidikan internal.
Raffi sendiri, melalui pernyataan tertulis di media sosial, Sabtu, 31 Oktober 2026, dan video di akun Utusan Khusus Presiden, Minggu, 1 November 2026, membantah terlibat dalam perencanaan, penyusunan, pengerahan, maupun detail acara. Ia berkata, ia baru menerima informasi itu pada malam sebelum acara. Ia membantah mengatur kemunculan merek, gapura, dan pembatas jalan. Ia berkata, ia menghormati aspirasi mahasiswa yang berdemonstrasi pada 28 Oktober. Ia meminta maaf atas kegaduhan. Ia berkata, kejadian itu menjadi pengingat untuk lebih teliti, lebih memahami informasi, lebih berhati-hati.
“Saya hadir dalam kegiatan deklarasi Sumpah Pemuda kemarin sebagai undangan yang informasinya baru saya terima pada malam sebelum acara. Saya tidak terlibat dalam perencanaan maupun penyusunan acara, serta tidak mengetahui detail susunan acara dan pihak-pihak yang hadir,” tulisnya.
Willie Salim pun meminta maaf secara terbuka, karena kurang teliti memeriksa latar belakang kegiatan, dan menegaskan ia tidak menerima bayaran sepeser pun.
Dua klarifikasi. Dua permintaan maaf. Satu penyelidikan internal yang belum mengumumkan hasilnya. Dan satu luka yang, ternyata, tidak berhenti di Bundaran HI. Luka itu berjalan. Ia berjalan ke selatan, ke Yogyakarta. Ia berjalan ke timur, ke Tasikmalaya. Ia berjalan seperti sebuah gema yang tidak mau diam, karena gema itu menemukan panggung-panggung lain untuk memantulkan dirinya.
MAGUWOHARJO: PANGGUNG YANG BERDIRI, STAN YANG KOSONG
Sabtu, 31 Oktober 2026, pukul 11.30 WIB. Area parkir Stadion Maguwoharjo, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Panggung utama sudah berdiri. Sound check sudah bergema. Tapi manusia tidak ada. Atau, kalaupun ada, hanya segelintir orang yang lewat, seperti orang yang salah alamat, seperti orang yang datang ke sebuah pesta yang tuan rumahnya sudah pergi.
RANS Carnival, festival gratis milik RANS Entertainment, yang dijadwalkan berlangsung dua hari, 31 Oktober sampai 1 November 2026, dengan musik, bazar UMKM, kuliner, dan wahana permainan, terpantau sepi. Bukan sepi karena hujan. Bukan sepi karena jauh. Sepi karena ditinggal.
Yang pertama pergi adalah para musisi.
Guyon Waton, grup asal Kulon Progo, pergi lebih dulu, dengan alasan keamanan, kenyamanan, dan hubungan baik dengan masyarakat luas. Manajemennya menegaskan, keputusan itu bukan soal teknis, bukan soal materi panggung. Ia soal perasaan sebuah kota.
OM Wawes, Orkes Melayu asal Yogyakarta, pergi dengan mempertimbangkan situasi masyarakat Yogyakarta. Masdddho pergi, dengan kalimat yang paling jujur dari semua kalimat: musik bukan sekadar hiburan, musik harus memperhatikan nilai, kepedulian, dan suara masyarakat.
Lalu Tipe-X pergi, dengan kalimat yang paling santai, dan karena itu paling menusuk: “Kita mundur dari acara ini. Sampai jumpa di lain pesta. Salam X.”
Empat nama. Lalu, dalam laporan lain, Fourtune dan RFRNDS. Empat, lima, enam nama yang, satu demi satu, menarik diri dari sebuah daftar yang semula penuh.
Yang kedua pergi adalah para pedagang.
Mereka bukan musisi. Mereka tidak punya panggung. Mereka punya stan, punya bahan baku, punya modal yang sudah dikeluarkan. Mereka sudah begadang menyiapkan dagangan. Mereka sudah loading in pada malam hari. Lalu, pada dini hari, mereka loading out. Mereka membongkar stan yang baru saja mereka dirikan. Mereka mengangkut kembali barang yang baru saja mereka tata.
Nama-nama mereka, yang diumumkan di Threads dan media sosial, terdengar seperti sebuah daftar duka yang kecil dan konkret: Jeruk Lokal, http://Cuann.king, http://Kalapaa.id, http://Donutsbun.co, Jimny Coffee, Mochi Oleebe, Roti Gembong Gedhe. Jeruk Lokal menulis: “Loading out RANS Carnival. CANCEL join acara. Sudah beli bahan baku banyak tapi bismillah, inshaa Allah ada rejeki di event atau tempat lain.” http://Kalapaa.id mengaku, bahan untuk jualan sudah siap, padahal uang itu rencananya untuk biaya persiapan kelahiran istrinya.
Sebuah klaim menyebut sekitar 95 persen tenant UMKM mundur. Angka itu, perlu dicatat dengan jujur, belum terkonfirmasi secara independen, dan media lain menulisnya dengan hati-hati. Tapi yang terlihat di lapangan, pada Sabtu siang itu, tidak membutuhkan angka untuk dipercaya: puluhan stan kosong, hanya segelintir pedagang yang bertahan karena terikat komitmen awal, atau karena sudah terlanjur menyiapkan dagangan sejak malam sebelumnya.
Tiga sponsor pun, menurut kabar yang beredar, dikabarkan mundur sehari sebelum acara dibuka. Kabar itu pun belum menjadi pernyataan resmi yang utuh. Tapi ia beredar, seperti semua kabar lain dalam pekan itu, dengan kecepatan yang lebih cepat daripada klarifikasi.
RANS Carnival tetap berjalan, dalam format yang lebih sederhana, menurut pernyataan penyelenggara pada Sabtu malam, 31 Oktober 2026. Penyelenggara menyebut festival itu selalu ingin menjadi panggung bagi pekerja seni dan UMKM, untuk memberi peluang kolaborasi dan menggerakkan ekonomi. Tapi panggung yang tetap berdiri, tanpa musisi dan tanpa pedagang, adalah sebuah panggung yang bercerita tentang dirinya sendiri: tentang sebuah acara yang ada, tapi tidak dihadiri. Tentang sebuah keramaian yang direncanakan, tapi ditolak oleh keramaian yang lain, yang lebih besar, yang tidak punya panggung, yang hanya punya layar ponsel.
Di sinilah boikot itu menunjukkan wajahnya yang paling rumit. Ia bukan hanya sebuah penolakan. Ia adalah sebuah pilihan yang mahal, yang dibayar oleh orang-orang yang paling tidak bersalah. Pedagang yang tidak ikut deklarasi, tidak memakai jas almamater siapa-siapa, ikut menanggung ongkosnya. Mereka kehilangan modal, kehilangan waktu, kehilangan satu akhir pekan yang seharusnya menjadi rezeki. Dan warganet, yang menyerukan boikot itu, kemudian menyerukan hal yang sebaliknya: borong dagangan mereka. Bantu mereka di tempat lain. Warga bantu warga.
Sebuah solidaritas yang lahir dari sebuah pembatalan. Sebuah kebaikan yang lahir dari sebuah kemarahan. Sebuah ironi yang, kalau dituliskan dalam sebuah novel, akan dianggap terlalu dibuat-buat. Tapi ini bukan novel. Ini Maguwoharjo, pada sebuah Sabtu yang lengang.
TASIKMALAYA: KETIKA SEBUAH KOTA MEMILIH UNTUK TIDAK MENJADI BERITA
Dan kini, kita kembali ke Tasikmalaya.
RANS Carnival dan Cipungland di sana belum pernah digelar. Ia baru rencana. Ia baru kalender. Ia baru sebuah janji yang ditulis di Instagram. Tapi janji itu, setelah Maguwoharjo, tidak lagi terdengar seperti janji. Ia terdengar seperti sebuah risiko.
Cipungland, perlu disebutkan, bukan sekadar nama. Ia adalah dunia kecil yang dibangun di sekitar Rayyanza Malik Ahmad, Cipung, anak bungsu Raffi Ahmad dan Nagita Slavina, yang menjadi daya tarik utama bagi keluarga-keluarga yang ingin melihat, dari dekat, sebuah keceriaan yang selama ini hanya mereka lihat di layar. Di Tasikmalaya, acara itu sedianya juga dimeriahkan hiburan dan UMKM Tasikmalaya. Tapi jumlah UMKM yang akan dilibatkan pun, kata Roni, belum ditentukan, karena sejak awal penyelenggara masih menunggu persetujuan dari manajemen pusat RANS.
Belum ditentukan. Masih menunggu. Belum memutuskan. Tiga frasa yang, dalam pekan itu, menjadi bahasa resmi dari sebuah ketidakpastian yang menjalar dari Jakarta ke Jogja ke Tasikmalaya, seperti sebuah kabar yang tidak mau berhenti di satu kota saja.
Maka, pada Senin, 2 November 2026, Roni berkata, keputusan itu diambil setelah mempertimbangkan dinamika kondisi lokal, demi menjaga kondusivitas di wilayah Kota Tasikmalaya. Sebuah kalimat yang, kalau diterjemahkan dari bahasa manajemen ke bahasa manusia, berarti: kami membaca apa yang terjadi di Jogja. Kami tidak ingin itu terjadi di sini. Kami memilih untuk menghapus, sebelum kami harus menjelaskan mengapa kami tidak menghapus.
Dan penghapusan itu, perlu ditegaskan dengan jujur, belum tentu berarti pembatalan permanen. Dalam laporan Kompas Bandung, 1 November 2026, yang menjadi titik berangkat tulisan ini, penghapusan dari kalender itu disebut sebagai pembatalan sementara, sambil menunggu keputusan resmi RANS Entertainment. Dalam laporan-laporan lain, pada 2 November 2026, ia disebut sebagai pembatalan yang sudah dikomunikasikan kepada tim RANS, dengan komunikasi yang masih terus bergulir. Dua versi itu tidak bertentangan. Mereka hanya menunjukkan satu hal yang sama dari dua sisi yang berbeda: sebuah acara yang belum diputuskan nasibnya, tapi sudah dihapus namanya.
Dan di situlah, justru, letak sastranya.
Karena sebuah kalender, pada akhirnya, bukan sekadar daftar tanggal. Kalender adalah sebuah cermin. Ia menunjukkan apa yang dianggap penting oleh sebuah kota, pada sebuah waktu tertentu. Ia menunjukkan apa yang dianggap layak untuk dirayakan, dan apa yang dianggap lebih baik untuk tidak dirayakan. Dan ketika sebuah nama dihapus dari kalender, tanpa upacara, tanpa penjelasan yang panjang, hanya dengan diganti oleh sebuah kata yang ringan, kalender itu sedang berkata sesuatu yang tidak bisa dikatakan oleh sebuah pernyataan resmi.
Ia berkata: kami mendengar.
Ia berkata: kami melihat Maguwoharjo.
Ia berkata: kami tidak ingin stan-stan kosong itu berdiri di parkir kami.
Ia berkata: kami tidak ingin musisi-musisi itu harus memilih, di kota kami, antara panggung dan perasaan warganya.
Ia berkata, dengan cara yang paling Tasikmalaya: kami memilih Zumba.
Zumba, yang tidak punya jas almamater. Zumba, yang tidak punya deklarasi. Zumba, yang tidak perlu klarifikasi. Zumba, yang hanya membutuhkan musik, gerakan, dan orang-orang yang datang dengan sukarela, tanpa dibayar, tanpa diarahkan, tanpa disuruh memakai nama kampus yang bukan kampus mereka.
TIGA KOTA, SATU PERTANYAAN
Jakarta bertanya: siapa yang membayar jas itu?
Yogyakarta menjawab: kami tidak mau membayar ongkosnya.
Tasikmalaya memilih: kami tidak mau menjadi pertanyaan berikutnya.
Tiga kota. Tiga jawaban. Satu pertanyaan yang sama, yang masih menggantung, yang masih menunggu penyelidikan internal Polda, yang masih menunggu keputusan RANS, yang masih menunggu rapat internal sebuah mal, yang masih menunggu apakah sebuah karnaval akan dijadwalkan ulang, atau tidak akan pernah dijadwalkan lagi.
Dan di antara semua penantian itu, ada satu hal yang sudah pasti, yang tidak perlu menunggu rapat apa-apa untuk dipahami: sebuah nama, ketika ia dihapus dari kalender, tidak hilang begitu saja. Ia berpindah. Ia berpindah dari kalender ke ingatan. Dari ingatan ke percakapan. Dari percakapan ke sebuah pelajaran.
Pelajaran itu, kalau harus dituliskan dalam satu kalimat, adalah kalimat yang paling sederhana, dan karena itu paling sulit untuk dijalankan: kepercayaan, sekali ia retak di satu bundaran, retaknya terdengar sampai ke kota-kota yang bahkan tidak pernah mendengar bunyi retakan itu secara langsung.
Bundaran HI retak pada 29 Oktober. Maguwoharjo mendengar retakan itu pada 31 Oktober. Tasikmalaya, pada 1 November, memilih untuk tidak menunggu retakan itu sampai ke parkir malnya.
Ia menghapus namanya. Ia menggantinya dengan Zumba. Ia menunggu.
Dan penantian itu, untuk sementara, adalah satu-satunya kepastian yang tersisa.
Catatan redaksi: Tulisan ini adalah pengembangan dan penulisan ulang secara sastrawi atas laporan Kompas Bandung, 1 November 2026, berjudul “RANS Carnival di Mal Tasikmalaya Mendadak Dihapus dari Kalendar Event, Ada Apa?”, dengan merujuk pada laporan-laporan terkait mengenai polemik Deklarasi Sumpah Pemuda di Bundaran HI, klarifikasi Raffi Ahmad dan Willie Salim, permohonan maaf Polda Metro Jaya, serta gelombang pembatalan di RANS Carnival Yogyakarta. Dugaan massa bayaran dan angka 95 persen UMKM yang mundur disajikan sebagai dugaan dan klaim yang beredar, yang sebagian belum terkonfirmasi secara independen. Penghapusan dari kalender Plaza Asia Tasikmalaya, menurut manajemen mal, adalah pembatalan sementara sambil menunggu keputusan resmi RANS Entertainment.




Tinggalkan Balasan