Yahukimo, Sketsakini.com- Ada kematian yang datang dengan dentuman. Ada pula kematian yang datang dengan sunyi, seperti kabut yang turun perlahan dan tidak pernah benar-benar pergi.

Iton Yahuli wafat dengan cara yang kedua.

Pada 31 Oktober 2026, sekitar pukul 24.00, di sebuah tempat yang jauh dari rumah sakit, jauh dari lampu yang terang, jauh dari suara mesin yang bisa menggantikan darah yang hilang, seorang lelaki berusia dua puluh enam tahun itu mengembuskan napasnya yang terakhir. Bukan karena peluru. Bukan karena ledakan. Melainkan karena tubuhnya sendiri yang perlahan menyerah: kekurangan darah, dan gangguan pada lambung yang tidak sempat disembuhkan.

Sebab di hutan, sakit bukanlah sekadar sakit. Sakit adalah sebuah perjalanan panjang tanpa peta. Tidak ada ambulans yang datang menembus kabut. Tidak ada infus yang menggantung di atas kepala. Yang ada hanyalah tanah yang basah, udara yang dingin, dan kawan-kawan yang hanya bisa menunggu, sambil menahan napas, sambil berharap pagi datang membawa keajaiban yang tidak pernah datang.

Iton lahir pada 5 Mei 2000, di Ombohoak. Dari rahim seorang ibu bernama Siahapen Bahabol, dan dari tangan seorang ayah bernama Ilsing Yahuli. Ia lahir pada awal sebuah abad yang menjanjikan dunia akan menjadi lebih baik, lebih terhubung, lebih manusiawi. Tetapi janji itu, seperti kabut di pegunungan Yahukimo, tampak dekat dari jauh, dan hilang begitu didekati.

Pada 2019, ketika usianya baru sembilan belas tahun, usia ketika anak-anak muda di kota sedang memilih jurusan kuliah dan memimpikan masa depan, Iton diserahkan oleh kedua orang tuanya, disaksikan oleh keluarga dan oleh pasukan, untuk bergabung dengan TPNPB KODAP XVI Yahukimo. Ia ditempatkan di Kompi Alosuwe, di bawah Batalyon HSSBI, dan bertugas di bagian logistik dari Markas Semenyeka.

Logistik. Kata yang terdengar administratif, tetapi di hutan, kata itu berarti hidup. Berarti membawa beras menembus hujan. Berarti menjaga api tetap menyala. Berarti memastikan bahwa kawan-kawannya yang lain masih bisa makan, masih bisa bertahan satu hari lagi. Iton bukan orang yang namanya ditulis di garis depan dengan huruf besar. Ia adalah orang yang berjalan di belakang, memikul beban yang tidak terlihat, agar barisan itu tidak runtuh.

Dan kini, lihatlah fotonya. Foto yang diambil entah kapan, di depan sebuah gubuk kayu yang atapnya ditutupi daun, di tengah hutan yang hijau dan berkabut.

Ia berdiri di sana, mengenakan kupluk hitam yang lusuh, janggut yang tumbuh liar, dan sebuah jaket kusam bertuliskan SPORT. Di lehernya, sebuah kalung dengan taring yang melengkung seperti bulan sabit. Tangan kanannya terulur, terbuka, seolah ia sedang menawarkan sesuatu yang tidak bisa kita lihat, atau sedang meminta kita untuk berhenti sejenak dan mendengarkan.

Di foto itu, ia tidak tampak seperti seorang prajurit yang sedang berperang. Ia tampak seperti seorang anak hutan yang sedang pulang. Matanya jernih. Wajahnya tenang. Tidak ada kemarahan di sana. Hanya ada kelelahan yang sudah lama berdamai dengan dirinya sendiri.

Itulah yang membuat kematian ini terasa begitu berat. Bukan karena ia mati dalam pertempuran yang heroik, melainkan karena ia mati dalam kesunyian yang tidak heroik sama sekali. Ia mati karena darahnya habis, perlahan, dan tidak ada yang bisa menggantikannya. Ia mati karena lambungnya sakit, dan sakit itu tidak pernah bertemu dengan obat. Ia mati seperti ribuan orang lain di tanah ini yang mati bukan karena mereka kalah, melainkan karena mereka terlalu jauh dari pertolongan.

Pada Rabu, 4 November 2026, Manajemen Markas Pusat KOMNAS TPNPB, melalui juru bicaranya Sebby Sambom, mengumumkan duka nasional atas wafatnya Iton Yahuli. Duka itu diumumkan untuk seluruh pasukan TPNPB di 36 Komando Daerah Pertahanan di seluruh Tanah Papua. Dalam siaran pers itu, Iton disebut sebagai pejuang yang rela berkorban demi bangsa dan tanah airnya, dalam perjuangan yang mereka yakini bermula dari 1 Desember 1961.

Kita tidak perlu sepakat dengan semua kata dalam siaran pers itu untuk memahami dukanya. Duka tidak membutuhkan persetujuan politik. Duka hanya membutuhkan kemanusiaan. Seorang ibu telah kehilangan anaknya. Seorang ayah telah kehilangan anak yang dulu ia serahkan dengan tangannya sendiri. Sebuah keluarga di Ombohoak kini harus belajar hidup dengan sebuah kursi kosong, dengan sebuah nama yang hanya akan disebut dalam doa dan dalam cerita.

Bayangkanlah Siahapen Bahabol pada malam 31 Oktober itu. Bayangkanlah seorang ibu yang tidak berada di samping anaknya ketika anaknya mengembuskan napas terakhir. Ia tidak bisa memegang tangannya. Ia tidak bisa membisikkan namanya. Ia hanya bisa mendengar kabar itu datang dari hutan, seperti kabar yang datang dari dunia lain, dan ia harus percaya bahwa kabar itu benar, padahal seluruh hatinya berharap kabar itu salah.

Dan bayangkanlah Ilsing Yahuli. Seorang ayah yang pada 2019 menyerahkan anaknya, bukan karena ia tidak mencintainya, melainkan karena ia percaya anaknya sedang memilih jalan yang ia yakini. Kini, jalan itu berakhir di sebuah tempat yang bahkan tidak memiliki batu nisan yang layak difoto. Ayah itu kini harus hidup dengan pertanyaan yang tidak akan pernah terjawab sepenuhnya: apakah aku telah menyerahkan anakku kepada sejarah, atau kepada kesunyian?

Sastra yang agung tidak akan menjawab pertanyaan itu. Sastra yang agung hanya akan menaruh pertanyaan itu di atas meja, dengan hati-hati, seperti menaruh sebuah lilin di tengah kabut, dan membiarkannya menyala, meski angin terus bertiup.

Iton Yahuli hidup dua puluh enam tahun. Itu bukan waktu yang panjang. Tetapi di tanah yang keras seperti Yahukimo, dua puluh enam tahun bukanlah waktu yang pendek. Itu adalah waktu yang cukup untuk belajar nama setiap pohon, untuk belajar kapan hujan akan turun hanya dengan mencium udara, untuk belajar bahwa hidup tidak diukur dari seberapa lama seseorang bernapas, melainkan dari seberapa setia seseorang tetap berdiri di tempatnya, meski kabut menutupi seluruh jalan pulang.

Ia tidak wafat di rumah sakit yang bersih. Ia wafat di hutan yang menjadi rumahnya. Ia tidak wafat dengan dikelilingi oleh alat-alat medis yang berbunyi. Ia wafat dengan dikelilingi oleh kawan-kawannya, oleh tanah yang basah, oleh suara-suara hutan yang tidak pernah berhenti, bahkan ketika seorang manusia berhenti bernapas.

Dan mungkin, justru di situlah letak keabadiannya yang paling sunyi. Ia tidak akan dikenang karena sebuah kemenangan. Ia akan dikenang karena sebuah kesetiaan. Kesetiaan untuk tetap berada di tempat yang sulit, untuk tetap memikul beban yang berat, untuk tetap menjadi bagian dari sebuah cerita yang jauh lebih besar daripada dirinya, meski cerita itu sendiri belum selesai ditulis.

Kabut di Semenyeka akan turun lagi besok pagi. Pakis-pakis akan tetap basah. Gubuk kayu itu akan tetap berdiri, meski atapnya menetes. Dan di depan gubuk itu, tidak akan ada lagi seorang lelaki berkupluk hitam yang berdiri dengan tangan terulur, menatap lensa dengan mata yang jernih.

Yang tersisa hanyalah foto ini. Foto seorang lelaki yang tidak tahu bahwa foto ini kelak akan menjadi foto terakhir yang dilihat banyak orang. Foto seorang lelaki yang tidak berpose, yang hanya berdiri, seperti pohon berdiri: tanpa perlu menjelaskan mengapa ia ada di sana.

Dan duka nasional yang diumumkan atas namanya, pada akhirnya, bukanlah sekadar pengumuman. Ia adalah sebuah pengakuan yang paling sederhana dan paling menyakitkan: bahwa seorang manusia telah pergi, dan kepergiannya meninggalkan lubang yang tidak dapat ditutup oleh kata-kata apa pun, betapa pun indah kata-kata itu dirangkai.

Selamat jalan, Iton Yahuli.

Anak Ombohoak. Anak dari Ilsing dan Siahapen. Penjaga logistik yang berjalan di belakang barisan, agar barisan itu tidak runtuh.

Hutan akan mengingat langkahmu, meski sejarah belum tentu sempat menuliskannya.

Tinggalkan Balasan

Sedang Tren