
Maybrat, Sketsakini.com —Senjata itu punya nama: Caracal. Bukan hewan gurun. Tapi senapan serbu organik milik TNI — jenis CAR 816 buatan Caracal, yang dipakai Satgas Pamtas RI-PNG Mobile Yonif 9 Marinir. Pada 22 Maret 2026, senapan itu dirampas. Di TK Sory, Maybrat. Satu pos kecil di perbatasan imajiner antara negara dan hutan, diserang Kodap IV Sorong Raya. Kala itu, satu senjata hilang. Satu lagi: K3 Daewo — senapan mesin ringan Korea — juga hilang.
Tujuh bulan kemudian, senjata itu ditemukan bukan di hutan terbuka. Tapi di Goa Ayata.
Goa di Maybrat bukan seperti goa wisata. Ia lembap, gelap, stalaktitnya meneteskan air yang tidak pernah kena matahari. Tempat yang sempurna untuk menyembunyikan sesuatu yang ingin dilupakan.
Operasi kemarin — Jumat, 16 Oktober 2026 — dibagi dua tim, seperti membagi doa:
Sektor Alfa — mencari Caracal.
Sektor Bravo — mencari K3 Daewo.
Yang terlibat bukan satu satuan. Tapi tiga baret digabung: Satgas Pamtas RI-PNG Mobile Yonif 9 Marinir (baret ungu), Denkul 4 / Rajawali V dari Yonif 411 Pandawa Kostrad, dan Satgas Pamtas Kewilayahan Yonif 764/IB. Sinergi yang biasanya hanya ditulis di rilis, kali ini jalan kaki bareng masuk hutan.
Pukul 12.25 WIT, Sektor Alfa menemukan: 1 pucuk Caracal, plus 17 butir amunisi kaliber 5,56 mm, masih utuh di Goa Ayata.
Dan di sinilah cerita Sketsakini dimulai: tim itu tidak datang sendiri. Di antara loreng-loreng itu, ada Anton Fatem — Danyon Ayosami Kodap IV — yang dua hari sebelumnya baru diamankan hidup-hidup. Bukan sebagai musuh. Tapi sebagai penunjuk jalan.
“Anton menunjukkan lokasi keberadaan senjata,” tulis Cakrawarta dan Dberita. Kalimat pendek yang kalau dibaca sastrawi, beratnya bukan main.
Seorang komandan batalyon yang dulu merampas, kini mengantar prajurit yang dulu dirampas untuk mengambil kembali senjatanya.
Itu sebabnya, di Maybrat, senjata tidak selalu soal siapa menembak. Kadang soal siapa yang ingat di mana ia disembunyikan.
Operasi Badai Kasuari — nama operasi yang dipakai sejak Mei — memang sudah lama berhitung: hancurkan 15 markas sektor, kuasai 56 rumah kaki seribu. Tapi baru kemarin, satu pucuk yang hilang kembali. K3 Daewo? Masih dicari. Sektor Bravo masih di hutan sampai detik ini.
Panglima Kogabwilhan III Letjen Lucky Avianto pernah bilang: “TNI tetap mengedepankan prinsip proporsionalitas serta perlindungan fasilitas publik.” Kalimat militer yang kaku. Tapi kalau diterjemahkan ke bahasa Maybrat: jangan sampai sekolah TK Sory diserang lagi.
17 butir amunisi. Satu Caracal. Satu goa.
Dan satu Anton Fatem yang berjalan di depan, bukan diborgol di belakang — menunjukkan jalan ke dalam gelap, tempat senjatanya sendiri dulu ia sembunyikan.
Di Sketsakini, kami percaya: kadang senjata kembali bukan karena direbut. Tapi karena yang menyembunyikannya akhirnya ingin pulang.




Tinggalkan Balasan