
AGISIGA, Sketsakini.com – Kabut di Distrik Agisiga, Kabupaten Intan Jaya, Papua Tengah, belum pecah Jumat pagi, 25 September 2026, ketika dentum kontak itu pecah. Di ketinggian yang dingin, aparat gabungan Timsus Yonif 315 Garuda dan Tim Taipur Koops TNI Habema menggelar operasi pembersihan. Ketika senja turun, empat nyawa dinyatakan hilang.
Selasa, 29 September 2026, Panglima Kogabwilhan III Letjen TNI Lucky Avianto membuka tabir nama. Empat yang tewas itu bukan orang asing di lembah itu. Mereka adalah Hermanus Hogajau alias Pontianus Hogajau, yang disebut sebagai pentolan Organisasi Papua Merdeka, bersama tiga rekannya: Malobega Hogajau, Eselon Hogajau, dan Aguni Hogajau.
Hermanus adalah nama yang paling sering disebut dalam laporan intelijen. Di samping jasadnya, ditemukan barang yang menjadi penanda jejaknya: buku rekening Bank Papua Cabang Sugapa atas nama Herman Hogajau, tujuh unit handphone, tujuh noken, dan senapan serbu SS2-V4 bernomor BD CS 015671 — senjata yang dikaitkan dengan milik almarhum Pratu Anggi dari Satgas 712 yang gugur sebelumnya.
Dua orang dilaporkan tewas di lokasi dan terdokumentasi, dua lainnya terjatuh ke jurang saat penyergapan berlangsung. Selain SS2-V4, tim juga mengamankan optik Trijicon, satu magasin, 50 butir munisi 5,56 mm, teleskop, busur panah, parang, pisau, senter kepala, obat-obatan, dan perbekalan rimba lainnya.
Operasi itu, kata Lucky Avianto, adalah bagian dari upaya menjaga keamanan di Intan Jaya — wilayah yang dalam dua tahun terakhir menjadi titik panas kontak bersenjata. Dari pihak aparat, tidak ada korban jiwa.
Kini Done Balogo di Agisiga kembali sunyi. Empat nama telah disebut lengkap, empat noken yang mungkin tak lagi diambil pemiliknya. Di meja komando, senapan SS2-V4 itu telah kembali, tapi kabut di atas Intan Jaya belum benar-benar pergi.
Keterangan resmi TNI menyebut keempatnya adalah anggota OPM. Sampai kini belum ada pernyataan keluarga terkait keempat nama tersebut.




Tinggalkan komentar