JAKARTA, Sketsakini.com — Selama ini, daftar tunggu haji adalah daftar penantian paling panjang dalam hidup orang Indonesia. Ada yang mendaftar di usia 30 tahun, berangkat di usia 79 tahun. Jika sempat.

Senin malam, 28 September 2026, di Istana Kepresidenan, Wakil Menteri Haji dan Umrah Dahnil Anzar Simanjuntak membawa kabar yang mengubah angka itu.

“Sejak Kementerian Haji ada, antrean yang paling lama itu 49 tahun,” kata Dahnil usai ratas.

49 tahun. Hampir setengah abad menunggu panggilan Ka’bah.

Presiden Prabowo Subianto kemudian memberi arahan satu kata: pangkas.

Tahun lalu, Kementerian Haji merumuskan formula pertama. Antrean turun dari 49 tahun menjadi rata-rata 26 tahun di seluruh Indonesia.

Tapi bagi Presiden, itu masih lama.

“Masih lama,” ujar Prabowo.

Maka Dahnil, Menteri, dan seluruh tim Kementerian Haji melakukan pekerjaan yang tidak terlihat tapi menentukan: membersihkan data. Mereka memvalidasi 5,7 juta data jemaah haji yang ada sekarang.

Dan ditemukan: ada 400.000 data invalid.

Data ganda, data orang yang sudah meninggal tapi masih tercatat mengantre, data yang tidak pernah diverifikasi. Selama bertahun-tahun, 400.000 nama bayangan itu ikut memanjangkan antrean.

Setelah dibersihkan, dihitung secara faktual, antrean haji tahun ini yang berangkat rata-rata hanya menunggu 14 tahun.

Dari 49 ke 26. Dari 26 ke 14 tahun.

Ini bukan sulap kuota. Ini adalah matematika kejujuran. Ketika data dibersihkan, antrean yang tampak menggunung ternyata bisa dipangkas sepertiganya.

Di negeri di mana haji adalah puncak rindu spiritual, 14 tahun masih terasa lama. Tapi dibandingkan 49 tahun — ia adalah jarak antara nyaris mustahil, menjadi mungkin.

Antara mendaftar untuk anak, menjadi mendaftar untuk diri sendiri yang masih bisa berjalan mengelilingi Ka’bah.

Tinggalkan komentar

Sedang Tren