
New York, Sketsakini.com- Ada perempuan 50 tahun di New York. Bukan nama yang penting, karena dalam rekam medis ia hanya disebut the patient. Tapi tubuhnya adalah novel yang salah dibaca selama lima tahun.
Awalnya hanya kaki yang kaku. Bukan kram biasa. Ia tidak bisa menekuk lutut, tidak bisa duduk, tidak bisa berjalan tanpa menyeret. Punggung bawahnya nyeri kronis, seperti ditusuk dari dalam. Ia demam yang datang dan pergi, menggigil tanpa sebab, dan berat badannya lenyap 14 kilogram tanpa diet — tubuhnya memakan dirinya sendiri.
Setengah lusin dokter ia datangi. Ortopedi melihat stenosis spinal di MRI dan menggeleng: “Bukan ini.” Neurolog melakukan tes konduksi saraf — normal. Ahli bedah saraf berkata: “Saya yakin bukan tulang belakangmu.”
Selama lima tahun, ia hidup dengan tubuh yang menolak perintah. Berdiri adalah siksaan. Berjalan adalah negosiasi dengan rasa sakit. Hingga suatu hari ia masuk UGD karena benar-benar tak bisa menekuk kaki, tak bisa bangkit dari tempat tidur.
Lalu seorang dokter penyakit gerak di University of Pennsylvania bernama Thomas Tropea memintanya berdiri. Ia berdiri — dengan susah payah. Lalu berjalan mengelilingi ruangan — justru lebih mudah saat bergerak. Rasa sakit dan goyah saat diam, hilang saat melangkah. Tropea menempelkan stetoskop di belakang lututnya.
Dan ia mendengar: flit-flit-flit, seperti rotor helikopter.
Detik itu, teka-teki selesai.
Itu adalah Stiff Person Syndrome — sindrom orang kaku. Penyakit autoimun satu di antara sejuta, yang menyerang enzim GAD, penjaga rem otot. Tanpa rem itu, otot terus menegang, kejang, membatu. 80% penderitanya memiliki antibodi anti-GAD yang melonjak. Prevalensinya 1-2 per satu juta manusia. Rata-rata butuh tujuh tahun untuk didiagnosis — Celine Dion pun baru mengumumkannya 2022, dan dunia baru tahu nama itu.
Perempuan itu bukan malas. Bukan cemas. Bukan pura-pura. Sistem imunnya sendiri yang mengira sarafnya adalah musuh.
Kini setelah diagnosis, ada jalan. Imunoterapi, pelemas otot, terapi antibodi. Tidak menyembuhkan sepenuhnya, tapi mengembalikan hak paling dasar: untuk menekuk kaki, untuk duduk, untuk berdiri tanpa takut tubuhnya menjadi patung.
Lima tahun ia berjalan dengan tubuh orang lain. Hari itu, untuk pertama kalinya, tubuhnya kembali dieja dengan benar.




Tinggalkan komentar