
TOLIKARA, Sketsakini.com — 2 Oktober 2026. Sore itu turun lagi. Satu kertas dari markas. Dari Tolikara, Mayor Botak Wanimbo mengirim laporan ke Manajemen Markas Pusat KOMNAS TPNPB. Laporan itu lalu diteruskan oleh Jubir Sebby Sambom, Jumat ini. Isinya bukan tentang dua pasukan yang berhadapan di hutan. Isinya tentang orang-orang yang setiap hari kita temui.
Tukang bakso yang mendorong gerobak di tanjakan Berema. Tukang ojek yang menunggu di perempatan Wamena. Sopir taksi yang hafal lubang di jalan. Pedagang kaki lima yang gelar lapak sejak subuh.
Mereka diminta pergi.
Dalam siaran pers itu tertulis: ASN dan warga imigran Indonesia yang dianggap sebagai agen intelijen agar segera meninggalkan wilayah operasi TPNPB di Tolikara, mulai hari ini. Ada kalimat yang lebih keras setelahnya — bahwa jika kedapatan saat operasi, akan ditembak mati. Ada daftar kampung halaman yang disebut: Jawa, Sulawesi, Manado, Makassar, dan lainnya di luar Tanah Papua.
Ada juga kalimat tentang warna kulit dan lurusnya rambut. Ada imbauan untuk warga NTT, NTB, Maluku untuk pulang. Ada permintaan kepada pemerintah Indonesia untuk mengevakuasi warganya dari Tanah Papua.
Di bawahnya, tertera empat nama: Jenderal Goliath Tabuni, Letnan Jenderal Melkisedek Awom, Mayor Jenderal Terianus Satto, Mayor Jenderal Lekagak Telenggen.
Kita membaca ini dengan pelan.
Karena di Papua, ancaman seperti ini bukan kata baru. Ia sudah lama hidup, berulang kali ditulis, berulang kali diucapkan. Dan setiap kali ia ditulis, yang paling pertama merasakan dinginnya bukan pejabat, bukan pasukan. Melainkan mama-mama yang jualan pinang, bapak-bapak yang mendorong gerobak bakso yang kemarin ditembak di Berema.
Mungkin ada marah yang ingin disampaikan TPNPB tentang negara, tentang sejarah, tentang luka yang panjang. Marah itu nyata, dan harus didengar. Tapi ketika marah itu diterjemahkan menjadi perintah pergi kepada tukang bakso dan tukang ojek, rasanya ia kehilangan alamatnya.
Tanah Papua adalah tanah yang besar. Ia cukup luas untuk menampung duka semua orang. Ia tidak perlu menjadi lebih sempit dengan mengusir mereka yang hanya mencari sesuap nasi.
Seorang tukang bakso tidak membawa bendera. Ia membawa kuah kaldu. Seorang tukang ojek tidak membawa peta operasi. Ia membawa helm untuk disewakan.
Jika perjuangan ingin dihormati, ia harus bisa membedakan mana seragam dan mana gerobak.
Dan jika ingin didengar dunia, mungkin caranya bukan dengan membuat takut orang yang paling lemah di jalan.
Karena pada akhirnya, tidak ada operasi yang lebih mulia dari operasi menjaga agar semua orang — Papua maupun bukan Papua — bisa pulang ke rumah tanpa ditembak.
Sore ini di Tolikara, kabut turun cepat. Gerobak-gerobak itu mungkin sudah didorong masuk lebih awal. Dandang masih hangat.
Semoga besok, mereka masih berani keluar lagi.




Tinggalkan komentar