Bandung,Sketsakini.com- Malaysia bergembira di Bandung. Malaysia kecewa di Jakarta. Di Si Jalak Harupat, Harimau Malaya mengaum paling keras malam ini. Singapura dihantam 6-0. Tidak ada ampun. Enam gol mengalir seperti ingin menebus hasil imbang 0-0 melawan Indonesia di GBK pekan lalu yang membuat mereka tertahan di puncak Grup A hanya karena selisih gol.

Di tribun, bendera Jalur Gemilang dikibarkan tinggi. Interim head coach Tan Cheng Hoe yang pekan lalu hanya puas menahan Indonesia 10 orang, malam ini bisa tersenyum. Malaysia sudah lakukan tugasnya. Empat poin jadi tujuh. Selisih gol +6. Tiket final ASEAN Cup 2026 di depan mata.

Lalu kabar dari 150 kilometer di barat laut datang lewat ponsel.

Dari Gelora Bung Karno.

9-2.

John Herdman dan Garuda tidak sekadar menang. Mereka mengamuk.

Bangladesh — tim yang di laga pembuka juga kalah dari Malaysia — malam ini dilumat sembilan gol di depan 70 ribu merah-putih. Sembilan. Dua gol balasan Bangladesh bahkan terdengar seperti penghormatan terakhir.

Di GBK, Herdman yang pekan lalu meminta suporter datang untuk laga final grup, malam ini dapat jawabannya: gol demi gol, lautan chant, dan papan skor yang terus berganti.

Hitung-hitungan Grup A pun berbalik dalam 90 menit:

  • Malaysia 6-0 Singapura: selisih gol +6, total 7 poin
  • Indonesia 9-2 Bangladesh: selisih gol +9, total 7 poin

Artinya? Malaysia yang sejam lalu sudah buka sampanye, kini harus lihat klasemen lagi. Indonesia naik ke puncak. Harimau Malaya turun ke posisi dua.

Kegembiraan di Jalak Harupat yang terekam kamera — pelukan Bergson, tawa di bench — mendadak senyap. Kemenangan besar itu tidak cukup besar.

Inilah ironi sepak bola turnamen: kadang 6-0 terasa seperti kalah, jika di stadion lain seseorang menang 9-2.

Malam ini, Malaysia belajar dua rasa dalam satu bus perjalanan Bandung-Jakarta. Gembira dan kecewa. Dan keduanya sama-sama pedih manisnya.

Tinggalkan komentar

Sedang Tren