Sketsakini.com dari Distrik Aifat, Maybrat — 5 Oktober 2026

Hari ini, dari dalam hutan Aifat, ada surat duka yang dikirim.

Surat itu datang dari Markas Pusat KOMNAS TPNPB, diteruskan oleh Jubir Sebby Sambom atas laporan Brigjen Denimos dari Kodap IV Sorong Raya. Surat itu tidak panjang, tapi berat. Ia mengumumkan bahwa dua anak dari tanah itu telah gugur pada 3 Oktober lalu, di antara Kampung Sorry dan Susumuk.

Namanya ditulis pelan: Arso Asinak dan Yohanis Ky.

Mereka disebut telah bersama Kodap IV sejak tahun 2020. Dua musim hujan dan kemarau mereka lalui di hutan yang sama. Kini, di awal Oktober ini, langkah mereka berhenti di Dusun Kawen.

Sketsakini membaca surat itu tanpa ingin menambah luka. Karena setiap surat duka, dari sisi manapun ia datang, selalu memiliki kalimat-kalimat yang terlalu berat untuk diulang dengan kata yang sama persis.

Versi yang tertulis di dalam surat itu adalah versi yang penuh duka dari satu sisi. Versi yang berbeda juga pernah tertulis di rilis resmi dari sisi lainnya, beberapa hari sebelumnya. Dua versi yang tidak bertemu di satu titik, seperti dua jalan setapak di Aifat yang tertutup kabut.

Kami tidak akan mengulang detail-detail yang menyakitkan itu di sini. Bukan karena kami tidak peduli. Justru karena kami peduli.

Yang kami tangkap dari surat itu, jika dibaca dengan hati yang paling jernih, hanya dua permohonan yang sangat manusiawi:

Satu, permohonan untuk pulang.

Disebutkan bahwa jenazah keduanya masih belum kembali ke pangkuan keluarga. Permintaan yang ditulis di surat itu sederhana: agar jenazah bisa diserahkan kepada Gereja dan keluarga, untuk didoakan dan dikuburkan dengan layak. Ini bukan soal siapa yang menang. Ini soal hak paling dasar setiap manusia: untuk pulang dan didoakan oleh mamanya, oleh pendetanya, di tanahnya sendiri.

Dua, permohonan untuk warga kecil.

Di bagian akhir surat, ada kekhawatiran tentang warga di Sorry dan Susumuk. Disebut ada yang diinterogasi, ada yang trauma, ada yang mengungsi ke hutan dan belum kembali. Sekali lagi, ini adalah laporan dari satu sisi yang belum bisa kami lihat sendiri kebenarannya. Tapi kekhawatiran akan mama-mama yang mengungsi di hutan adalah kekhawatiran yang tidak boleh kita anggap ringan, dari manapun datangnya.

Jika memang ada warga yang masih di hutan sejak operasi 3-5 Oktober, mari kita cari bersama. Bukan dengan senjata, tapi dengan daun sagu, dengan selimut, dengan doa.

Aifat adalah nama yang lembut. Ia bukan nama medan perang. Ia adalah nama distrik dengan kampung-kampung kecil, dengan kebun ubi, dengan gereja kayu yang pintunya selalu terbuka.

Maka ketika ada duka nasional diumumkan di sana, biarlah duka itu menjadi ajakan untuk jeda. Untuk menahan diri. Untuk tidak menambah lagi daftar nama.

Kami membayangkan, di suatu pagi nanti, seorang pendeta di Maybrat berjalan pelan membawa dua peti kayu kecil menuju pemakaman. Di belakangnya, mama-mama membawa noken berisi bunga hutan. Tidak ada tembakan. Tidak ada teriakan. Hanya doa yang dibisikkan dalam bahasa Tehit atau bahasa Ayamaru.

Itulah yang seharusnya menjadi akhir dari setiap operasi: bukan siaran pers kemenangan, tapi prosesi kepulangan yang bermartabat.

Untuk Arso Asinak dan Yohanis Ky, apapun jalan yang mereka pilih semasa hidup, hari ini mereka telah selesai. Biarlah hutan Aifat yang menjadi saksi bisu mereka, menyimpan cerita mereka dengan lembut.

Dan untuk kita yang masih hidup, tugas kita satu: pastikan tidak ada lagi anak-anak Papua yang harus mengungsi karena takut, dan pastikan setiap jenazah bisa pulang untuk dipeluk terakhir kali oleh keluarganya.

Karena pada akhirnya, Tanah Papua tidak membutuhkan lebih banyak duka nasional. Ia hanya membutuhkan lebih banyak kepulangan yang tenang.

Damai untuk Aifat. Damai untuk Maybrat.

Tinggalkan komentar

Sedang Tren