
Maybrat,Sketsakini.com — Distrik Aifat Selatan, Maybrat, Papua Barat Daya, 3-4 Oktober 2026
Hutan di utara Aifat Selatan itu luas. Terlalu luas untuk terus menjadi tempat bersembunyi.
Pada Sabtu malam, 3 Oktober 2026, patroli gabungan TNI masuk ke sana. Bukan untuk membuat gaduh. Untuk memastikan Jalan Gunung, kebun, dan honai di bawahnya tetap bisa menjadi milik warga.
Dari informasi lapangan dan pantauan teknologi, pergerakan kelompok bersenjata Kodap IV Sorong Raya pimpinan Manfred Fatem terdeteksi akan masuk ke permukiman warga Distrik Aifat. Itu titik yang tidak boleh dilewati.
Pasukan gabungan Denkul IV Satgas Rajawali V Koops Habema dan Satgas Pamtas Yonif 9 Marinir di bawah kendali Kogabwilhan III bergerak. Sebelum kontak, menurut keterangan resmi Pangkoops Habema Brigjen TNI Riyanto dan Pangkogabwilhan III Letjen TNI Lucky Avianto, ada upaya persuasif: permintaan untuk menyerah dan meletakkan senjata.
Himbauan itu, menurut keterangan yang sama, dijawab dengan tembakan. Dan terjadilah kontak tembak yang terukur.
Di ujungnya, dua orang dilaporkan meninggal dunia di lokasi: Arso Aisnak — disebut sebagai Komandan Komando Wilayah Pertahanan II — dan Yohanes Ky — Komandan Batalyon Karef Hamit Kodap IV Sorong Raya. Keduanya adalah nama yang dalam rilis disebut sebagai duet eksekutor lapangan kelompok tersebut.
Pimpinan kelompok, Manfred Fatem, dilaporkan melarikan diri ke dalam hutan bersama sisa anggotanya dan masih dalam pengejaran.
Dari lokasi, prajurit mengamankan yang harus diamankan agar tidak lagi berputar di kampung: satu pucuk revolver, sepuluh butir munisi, puluhan peluru senapan mesin, alat komunikasi HT, senjata tajam, dan dua lembar bendera Bintang Kejora.
Seluruh prajurit TNI dilaporkan selamat.
Sketsakini mencatat ini bukan cerita tentang siapa yang paling kuat di hutan. Ini cerita tentang merebut kembali rasa aman.
Markas yang dikuasai di tengah belantara bukanlah bangunan. Ia adalah rasa takut warga yang selama ini dipelihara di sana. Ketika pos itu diambil alih, yang direbut kembali sebenarnya adalah satu hal sederhana: hak warga Aifat Selatan untuk tidur tanpa mendengar langkah kaki asing yang bukan milik mereka.
TNI menyebut tindakannya terukur, selektif, profesional, dan sesuai prosedur serta hukum humaniter. Itu standar yang harus terus kita pegang. Karena di Papua Barat Daya, kemenangan sejati bukan dihitung dari berapa senjata yang disita, tapi dari berapa kebun yang esoknya bisa kembali digarap, berapa anak yang bisa kembali sekolah tanpa diantar rasa cemas.
Hutan di Maybrat itu hijau. Ia harus tetap hijau untuk warga, bukan untuk persembunyian.
Kini patroli masih berlanjut. Pengejaran masih dilakukan dengan hati-hati. Kita berharap, dari Aifat Selatan, kabar berikutnya bukan lagi soal tembakan, tapi soal warga yang kembali berani membuka pintu honai di pagi hari.
Karena pada akhirnya, Papua Barat Daya tidak butuh lebih banyak markas. Ia butuh lebih banyak kepulangan.




Tinggalkan komentar