
Jakarta, Sketsakini.com — Dari Gelora Bung Karno, Jakarta. 5 Oktober 2026. Di sepak bola, ada kemenangan yang tidak hanya dihitung di papan skor. Ia dihitung di tangga.
Sore ini, Senin 5 Oktober 2026, Harimau Malaya akan kembali menatap Vietnam. Bukan di final. Di perebutan tempat ketiga FIFA ASEAN Cup 2026 di Stadion Gelora Bung Karno Madya. Pertandingan yang oleh sebagian orang disebut hanya perebutan perunggu.
Padahal di atas perunggu itu, ada sesuatu yang lebih berat: ranking.
Menurut catatan Network Sukan dan Media Sukan, dalam tiga laga Grup A lalu, Malaysia sudah mengumpulkan 8.72 poin ranking FIFA. Dua kemenangan — 3-0 atas Bangladesh, dan 6-0 yang indah atas Singapura — serta satu hasil imbang 0-0 yang keras melawan Indonesia. Tujuh poin tanpa kalah. Total poin kini 1,095.75. Tapi posisi masih tertahan di tangga ke-136 dunia.
Kenapa tertahan? Karena Indonesia pun mengoleksi poin dan selisih gol yang sama. Bedanya, Indonesia lebih produktif. Sepak bola kadang sehalus itu: bukan siapa yang menang lebih besar, tapi siapa yang mencetak satu gol lebih rajin.
Maka laga melawan Vietnam besok bukan sekadar soal pulang membawa medali. Jika Harimau Malaya menang, tambahan sekitar 6.33 poin menanti. Dan 6.33 poin itu bisa mengangkat Malaysia melonjak tiga anak tangga — dari 136 ke 133 dunia.
Tiga anak tangga. Terdengar kecil. Tapi bagi sebuah negara yang tahun lalu sempat terperosok ke 138 dunia setelah kalah dari Vietnam, tiga anak tangga adalah napas baru.
Pelatih sementara, Tan Cheng Hoe, tahu betul rasanya terkandas berulang kali melawan Vietnam. Ia bilang, ini pertandingan yang dinanti-nantikan. Bukan untuk balas dendam. Untuk menutup turnamen tanpa kekalahan.
Vietnam sendiri datang dengan luka yang berbeda. Kehilangan Nguyen Xuan Son karena hamstring, Bui Hoang Viet Anh yang cedera, dan beberapa pemain naturalisasi yang sakit. Malaysia juga tanpa Dion Cools yang pulang karena urusan pribadi, dan Faisal Halim yang cedera betis.
Kedua harimau sama-sama pincang. Tapi justru di situlah sastra sepak bola bekerja.
Karena hari ini, ketika peluit dibunyikan jam 16.00 WIB di Senayan, yang dipertaruhkan bukan hanya siapa juara ketiga. Yang dipertaruhkan adalah apakah Harimau Malaya masih mau memanjat. Pelan-pelan. Tiga anak tangga demi tiga anak tangga.
Kadang kebangkitan tidak datang dengan raungan. Ia datang dengan langkah kecil yang konsisten — dari 136 ke 133. Dari perunggu menuju cahaya.
Dan jika hari ini Harimau Malaya menewaskan Vietnam lagi seperti yang dulu pernah mereka lakukan 4-0 di Bukit Jalil, maka itu bukan sekadar kemenangan. Itu adalah cara sebuah bangsa berkata: kami masih di sini, kami masih memanjat.




Tinggalkan komentar