
Jayapura, Sketsakini.com- Waena, 30 September 2026. Di Uncen, ada pelajaran yang tidak tertulis di kurikulum.
Kalau satu teman dipanggil polisi, yang lain ikut mengantar. Tidak untuk berorasi. Hanya untuk duduk bersama di halaman Polresta, menunggu hingga semua pulang dengan selamat.
Begitu yang terjadi pada Selasa siang, 30 September lalu.
Empat mahasiswa BEM Uncen dipanggil ke Polresta Jayapura Kota untuk klarifikasi terkait aksi damai mereka pada 15 Agustus. Mereka datang tepat waktu, jam 11 siang, didampingi pengacara LBH Papua. Diperiksa hingga sore, hingga jam 5 lebih.
Di luar ruangan, belasan teman mereka datang. Di antara mereka ada Wialo Silak, Ketua MPM Uncen. Seorang kakak yang dituakan di kampus.
Dan dari halaman itulah kabar yang kurang baik itu datang.
Dalam laporan yang ditulis Human Rights Monitor, Wialo disebut mengalami luka di sekitar mata kanan. Ada memar. Ada goresan. Laporan itu menulis, luka itu diduga terjadi di dalam kompleks Mapolresta. Di hari yang sama, ponsel dan identitas beberapa mahasiswa yang hanya menemani juga disebut sempat ditahan sebentar.
Kami tahu, satu kata yang salah bisa membuat luka ini menjadi lebih dalam. Kami hanya ingin menulis tentang mata itu.
Mata seorang ketua MPM adalah mata yang biasanya membaca buku-buku konstitusi, membaca draft anggaran mahasiswa, membaca poster-poster aksi yang ditulis dengan spidol. Mata itu bukan mata yang terbiasa memar.
Maka ketika mata itu pulang dalam keadaan memar, banyak kaca jendela asrama di Waena yang terdiam.
Kami juga ingin menulis tentang belasan teman yang menemani. Di usia 20 tahunan, mereka sudah paham makna solidaritas yang paling murni: menemani tanpa diminta. Mereka tidak membawa batu. Mereka hanya membawa air minum dalam botol dan niat baik: bahwa tidak ada kawan yang boleh menghadapi ruang pemeriksaan sendirian.
Itu adalah tradisi yang indah. Tradisi yang seharusnya dijaga oleh siapapun, termasuk oleh mereka yang berseragam.
Kami percaya, di Polresta Jayapura Kota ada banyak polisi yang juga bapak dari mahasiswa. Yang anaknya juga kuliah di Uncen. Yang ketika melihat mahasiswa duduk di halaman, ia melihat anaknya sendiri.
Maka peristiwa 30 September itu, biarlah ia menjadi jeda untuk saling melihat kembali. Bukan sebagai laporan pelanggaran, tapi sebagai pengingat lembut: bahwa kantor polisi seharusnya menjadi tempat paling aman bagi warga yang datang dengan itikad baik.
Untuk Wialo, kami hanya ingin berkata: lekas pulih, Kaka. Semoga matamu kembali jernih untuk melihat papan tulis, untuk membaca buku, untuk melihat teman-temanmu lagi di kampus. Lukamu dicatat, tapi tidak perlu dibalas dengan luka lain. Cukup dengan janji bahwa lain kali tidak akan terulang.
Untuk teman-teman yang ponselnya sempat ditahan, semoga skripsinya tidak hilang. Di dalam ponsel itu ada foto-foto aksi, ada catatan-catatan rapat, ada chat dengan mama di kampung.
Dan untuk kita semua di Jayapura: mari jaga tradisi menemani itu. Jangan biarkan satu siang yang memar membuat kita takut untuk saling mengantar lagi.
Karena pada akhirnya, kampus dan kantor polisi tidak seharusnya berjarak. Keduanya ada untuk menjaga agar kata-kata masih bisa diucapkan tanpa harus takut pulang dengan memar.
Damai untuk Waena. Damai untuk Uncen.




Tinggalkan komentar