Sketsakini.com — Jakarta, 8 Oktober 2026. Namanya muncul bukan karena pidato di Senayan. Tapi karena sebuah PDF.

Nomor suratnya rapi: 090/FNASDEM/A-429/X/2026. Tertanggal 7 Oktober 2026. Perihal: “Usul Pemberhentian (Impeachment) Wakil Presiden Republik Indonesia Gibran Rakabuming Raka”. Di bawahnya ada nama: Tonny Tesar, http://S.Sos, Anggota DPR/MPR RI Fraksi NasDem A-429, Dapil Papua.

Isinya juga rapi. Merujuk Pasal 169 huruf r UU Pemilu: syarat capres-cawapres minimal tamat SMA atau sederajat. Lalu merujuk sidang MK perkara No. 01/PHPU.PRES-XXIV/2026 yang diajukan 12 pemohon, termasuk Denny Indrayana dan KIPP. Katanya, dalam persidangan terungkap Gibran tidak bisa menunjukkan ijazah SMA yang sah. Maka ada cacat formil. Maka DPR harus bertindak.

Surat itu beredar di grup wartawan. Dalam 3 jam, jadi headline.

Lalu NasDem panik.

“Hoaks, Hoaks. Enggak ada.”

Itu jawaban Bendahara Umum NasDem, Ahmad Sahroni, di Kompleks Parlemen, Kamis siang. Pendek. Diulang dua kali. Seperti orang yang ingin memastikan.

“Enggak benar dan hoaks ya,” tambahnya di WhatsApp ke Tribunnews.

Wakil Ketua DPR dari NasDem, Saan Mustopa, lebih hati-hati. “Saya lagi mau cek dulu ya. Mau cari tahu dan mau klarifikasi.”

Karena NasDem sendiri, kata Saan, masih mengkaji Putusan MK 6 Oktober kemarin. MK memang menolak gugatan soal syarat pendidikan Gibran. Bukan karena menganggap ijazah Gibran ada, tapi karena pemohon tidak punya legal standing. Mereka bukan pasangan calon Pilpres 2024. Jadi permohonan tidak dapat diterima. Amar yang abu-abu. Yang bisa dibaca dua arah.

Dan di celah abu-abu itu, surat atas nama Tonny Tesar itu masuk.

Lalu Siapa Tonny Tesar?

Jika kamu anak Jakarta, kamu mungkin tidak kenal namanya. Tapi jika kamu anak Serui, kamu pasti kenal.

Tonny Tesar lahir 6 November 1958 di Serui, Papua. Umur 67 tahun sekarang. Jalannya tidak instan.

2004-2012: ia 2 periode jadi Anggota DPD RI dari Papua.
2012-2022: ia 2 periode jadi Bupati Kepulauan Yapen. 10 tahun. Orang Serui menjulukinya Bapak Pembangunan, karena ia yang menyambung jalan Trans Yapen yang menghubungkan kampung-kampung yang dulu butuh 1 jam ke kota, sekarang 15 menit. Di podcast ORATOR, ia bilang: membangun di pulau itu bukan soal semen, tapi soal jadwal kapal.

2024: ia maju DPR RI lewat NasDem, Dapil Papua — meliputi Biak Numfor, Jayapura, Keerom, Yapen, Mamberamo Raya, Sarmi, Supiori, Waropen, dan Kota Jayapura. Suara 66.722, peringkat 1 di partainya di dapil itu. Lolos. Duduk di Komisi XIII, bidang Reformasi Regulasi dan HAM, plus Badan Anggaran.

Di Yapen, ia masih ingat masjid. Maret 2026 kemarin, resesnya ia isi buka puasa di Masjid Al Hidayah Serui, kasih bantuan masjid dan santunan untuk ibu-ibu mualaf. Ia juga alumni YPK — Yayasan Pendidikan Kristen — ikut jalan santai pungut sampah bersama pelajar.

Dia bukan tipe politisi yang suka gebrak meja di TV. Dia tipe yang membangun jalan pelan-pelan.

Lalu kenapa namanya bisa ada di surat sepanas itu?

Sampai Hari Ini, Tonny Diam.

Itu yang bikin cerita ini menggantung.

Sampai berita ini ditulis, tidak ada konfirmasi langsung dari Tonny Tesar. Dihubungi via telepon dan pesan singkat, tidak jawab.

Istana, lewat Wamensesneg Bambang Eko Suhariyanto, bilang: belum tahu, serahkan ke mekanisme DPR. Belum ada pembahasan khusus dengan parlemen.

Jadi ada dua kemungkinan versi:

Versi pertama: Surat itu palsu. Dibuat orang yang menumpang nama anggota dewan dari Dapil terjauh, yang akses klarifikasinya paling susah, untuk memancing keributan setelah putusan MK. Sahroni bilang hoaks, dan itu masuk akal. Di Senayan, surat resmi fraksi tidak pernah pakai nomor anggota A-429 seperti itu untuk usulan impeachment. Impeachment butuh minimal 25 orang pengusul, bukan satu orang.

Versi kedua: Surat itu memang ada, tapi belum restu fraksi. Seorang anggota DPR boleh bersuara pribadi. Namun NasDem, partai yang sejak 2024 kembali dekat dengan pemerintah Prabowo-Gibran, harus buru-buru membantah agar tidak dianggap manuver.

Dua-duanya mungkin.

Yang pasti, dari Serui ke Senayan, Tonny Tesar yang biasanya ngomong soal jalan, masjid, dan YPK, tiba-tiba harus belajar kata baru: pemakzulan.

Dan kita, yang membaca dari jauh, kembali belajar pelajaran lama: di tahun 2026, surat bisa lebih cepat dari kebenaran. Satu PDF bisa bikin satu pulau ditanya satu Indonesia.

Padahal Tonny Tesar sendiri belum sempat bicara.

Tinggalkan Balasan

Sedang Tren