Pamulang, Sketsakini.com — Pagi itu di Ahmad Dahlan Sport Center, Pamulang — lapangan olahraga milik SMA Muhammadiyah 25 Setiabudi — Prof. Muhadjir Effendy berdiri. Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Penasihat Khusus Presiden RI Bidang Haji.

Tema di spanduk: “Membangun Ekosistem Ekonomi Muhammadiyah untuk Dakwah Kesejahteraan Umat.”

Terdengar formal. Tapi Muhadjir membawanya ke akar:

Muhammadiyah tidak lahir dari rapat. Ia lahir dari warung.

Sejak KH Ahmad Dahlan, gerakan ini ditopang bukan oleh proposal, tapi oleh saudagar. Oleh Batik. Oleh semangat memberi, berusaha, dan membangun jaringan sosial. Tradisi itu yang sekarang mau diingat kembali.

“Ekonomi bukan sekadar memperoleh pendapatan,” kata Muhadjir. Ekonomi adalah agar dakwah punya napas panjang. Agar sekolah tidak menunggu donasi. Agar rumah sakit tidak menunggu APBN. Agar masjid bisa menyalakan lampu sendiri.

Lalu ia memberi angka — bukan retorika:

Ratusan rumah sakit Muhammadiyah butuh 16 sampai 18 juta botol infus setahun. Jika 10% saja dibuat sendiri — pabrik infus Muhammadiyah — itu sudah penyelamatan. Belum jarum suntik, kapas, perban.

Puluhan ribu sekolah. Ratusan kampus. Itu bukan beban. Itu pasar. Itu ekosistem.

Ia tidak meminta Muhammadiyah menjadi konglomerat. Konglomerat membangun dari atas, jual saham ke publik. Muhammadiyah tumbuh dari bawah, seperti akar beringin. Pelan.

“Muhammadiyah harus bisa mengukur risk appetite,” katanya. “Umurnya panjang karena kehati-hatian. Ia lebih mirip marathon, bukan sprint. Tahu kapan mempercepat, kapan mengambil napas.”

Karena itu, dua kata kuncinya kemarin di Tangsel: ritel dan UMKM.

Bayangkan: produk ibu-ibu ‘Aisyiyah di Pamulang — keripik, sambel, batik cap — tidak lagi titip di warung tetangga saja. Tapi masuk jaringan ritel Muhammadiyah. Kemasannya diperbaiki. Barcode-nya diurus. Dijual di Mart Muhammadiyah Jakarta, di Sleman, di Makassar. Dari satu gerai, menjadi jaringan.

Saudagar tidak lagi sendiri-sendiri. Daerah tidak lagi menunggu pusat. Pamulang membuat terobosan sambel. Bukittinggi membuat terobosan rendang kaleng. Jambi membuat terobosan madu. Lalu berjejaring.

Ketua PWM Jambi mengeluh di forum yang sama: orang mengira Muhammadiyah kaya Rp4 triliun. Proposal bantuan ditolak karena dianggap sudah kaya. Padahal kekayaan itu aset, bukan cash — sekolah, rumah sakit, tanah wakaf — yang tidak bisa dicairkan untuk beli telur.

Maka jawabannya bukan menolak stigma kaya, tapi menjadikan valuasi itu modal kepercayaan. Menjadi social corporation: untungnya bukan untuk pribadi, tapi untuk umat. Bukan hanya warga Muhammadiyah, tapi seluruh rakyat Indonesia.

Hidup-hidupilah Muhammadiyah, jangan mencari penghidupan di Muhammadiyah — kalimat KH Ahmad Dahlan itu, kata Muhadjir, sering salah arti. Bukan berarti tidak boleh digaji. Tapi jangan korupsi di dalamnya. Integritas.

Di lapangan Sport Center itu, Sabtu 10 Oktober 2026, Muhammadiyah sedang mengingat kembali dirinya yang paling awal: gerakan dakwah yang berdagang. Bukan berdagang yang berdakwah.

Dan Muhadjir menutup dengan kalimat, Muhammadiyah tidak banyak bicara, tapi bekerja nyata.

Tinggalkan Balasan

Sedang Tren