Maybrat, Sketsakini.com — Jamnya masih tercatat sama: 00.45 WIT, Rabu 14 Oktober 2026. Kampung Kamat, Distrik Aifat Timur, Maybrat, Papua Barat Daya. Operasi senyap Satgas Gobang VII Yonif 9 Marinir pimpinan Letkol Marinir Laili Nugroho.

Video yang diunggah @marinir_tni_al, yang dikutip http://Kompas.com pagi ini — menunjukkan pria tua, kecil, rambut ikal pendek tidak gondrong, kaos oranye kerah hitam — berdiri di antara dua baret biru. Tidak ada borgol yang diangkat ke kamera. Tidak ada darah.

Namanya: Zakarias Fatem. Yang disebut Wakil Panglima Kodap IV Sorong Raya / Soraya OPM.

Kalimat pertamanya sudah viral kemarin:

“Saya Zakarias Fatem, Wakil Panglima Kodap IV Sorong Raya, saya menyerah karena ditangkap Marinir.”

Tapi di rekaman lanjutan yang sama — yang full-nya ada di artikel Kompas Nasional yang kamu kirim — ada kalimat kedua yang tidak dikutip di judul. Kalimat yang lebih pelan. Yang Sketsakini tunggu.

Ia menatap kamera, lalu bilang — bukan sebagai panglima, tapi sebagai bapak:

“Anak-anak yang masih di hutan, sudah… turunlah. Menyerahlah. Nanti dikasih makan dan minum sama Marinir.”

Tidak ada naskah. Tidak ada teks proklamasi. Hanya seorang kakek yang tahu rasanya lapar di hutan.

Sketsakini membayangkan hutan di Aifat Timur semalam: gelap, basah, daun pisang meneteskan air. Beberapa hari sebelumnya, di Sungai Kumandan, Mayor Manfred Fatem, Anton Fatem, Yesias Fatem, Titus Sowe — kontak tembak dengan pasukan gabungan Satgas Marinir 9 dan Rajawali V Koops Habema berdasar info A1 BIN, kata Pangkogabwilhan III Letjen Lucky Avianto. Ada yang menyebut mereka tertembak saat menyeberang. Air sungai keruh.

Zakarias lolos dari sungai itu, masuk ke rumah kayu. Lalu diringkus.

Dan ketika ia sudah di tangan Marinir — di rumah kayu yang lampu petromaknya masih menyala, di mana TNI AL mencatat tidak ada tindakan kekerasan — ia tidak berteriak merdeka. Ia tidak berteriak balas dendam.

Ia memanggil anak-anaknya.

“Turunlah.”

Di Maybrat, kata “anak” bukan pangkat. Semua prajurit muda di hutan dipanggil anak. Semua yang ikut angkat senapan dipanggil anak. Dan seorang Wakil Panglima yang sudah tua — yang kaos oranyenya sudah lusuh — tahu bahwa perut kosong tidak bisa diajak perang selamanya.

Kadispen Kormar Kolonel Mar Rana Karyana bilang, barang bukti yang diamankan: senapan angin, bendera Bintang Kejora, aksesori OPM, uang tunai. Tapi yang paling penting malam itu bukan barang bukti.

Yang paling penting adalah satu kalimat yang membuat hutan sedikit lebih sepi:

“Menyerahlah. Dikasih makan dan minum.”

Setelah itu ia dibawa ke Kotis Satgas Gobang VII Yonif 9 Marinir untuk pemeriksaan lanjut. Tidak ada kontak senjata lanjutan.

Kami mencatatnya begini: peperangan tidak selalu selesai karena peluru habis. Kadang selesai karena seorang kakek ingat bahwa anak-anaknya belum makan sejak kemarin.

Tinggalkan Balasan

Sedang Tren