Jakarta, Sketsakini.com- Di Pamulang, Sabtu 10 Oktober 2026, Ahmad Dahlan Sport Center tidak penuh oleh tepuk tangan. Ia penuh oleh sebuah pertanyaan lama yang kembali diajukan: Untuk apa Muhammadiyah berbisnis?

Prof. Dr. Muhadjir Effendy, Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah, berdiri di Hari Bermuhammadiyah Kota Tangerang Selatan dengan tema yang terdengar seperti judul skripsi — Membangun Ekosistem Ekonomi Muhammadiyah untuk Dakwah Kesejahteraan Umat — tapi isinya adalah nadi.

Bagi Muhammadiyah, ekonomi bukan soal menambah angka di laporan keuangan. Ekonomi adalah soal agar dakwah punya napas. Agar sekolah tidak berhenti karena tidak ada dana. Agar rumah sakit tidak menutup pintu karena tidak ada infus. Agar kegiatan sosial tidak hanya jadi proposal yang ditolak karena Muhammadiyah dianggap sudah kaya.

Dan ini bukan gagasan baru. Ini adalah warisan yang sudah berusia lebih dari seabad.

Sejak KH Ahmad Dahlan, Muhammadiyah tidak lahir dari gedung. Ia lahir dari kantong-kantong saudagar. Dari orang-orang yang memberi, berusaha, dan membangun jaringan. Saudagar yang percaya bahwa uang, jika diletakkan di tangan yang benar, bisa menjadi ayat yang bergerak.

Muhadjir hanya mengingatkan itu kembali, dengan bahasa yang lebih modern: ekosistem.

Saudagar Muhammadiyah, kata Muhadjir, tidak boleh lagi berjalan sendiri-sendiri. Mereka harus berjaring. Produk mereka harus punya pasar. Jaringan mereka harus saling menguatkan.

Salah satu jalannya adalah ritel.

Di Sinjai, Sulawesi Selatan, pada 25 September 2026, Muhadjir meresmikan Mentari Mart yang kedelapan di Indonesia. Ia menargetkan, hingga akhir tahun, ada 20 Mentari Mart. Ini bukan sekadar toko. Ini adalah mata rantai bisnis. Dari keputusan Muktamar di Makassar satu dekade lalu, yang baru sekarang benar-benar dijahit menjadi nyata.

Di tempat lain, namanya berbeda: Suryamart. Tapi maksudnya sama. Sebuah jaringan ritel umat, agar produk UMKM warga Muhammadiyah tidak berhenti di meja produksi, tapi sampai ke rak, sampai ke tangan pembeli, sampai ke perputaran ekonomi.

Karena itu yang selama ini menjadi luka Muhammadiyah, kata Muhadjir di Garut, 10 April 2026: Kuat di produksi, lemah di pasar.

UMKM butuh pasar. Pasar hari ini bukan lagi hanya pasar tradisional. Ia adalah ruang digital, jaringan distribusi modern, kemasan yang layak, dan saluran penjualan yang berkelanjutan.

Dan Muhadjir tahu persis, ini bukan sprint.

Di Bukittinggi, 20 September 2026, di depan PWM se-Sumatera, ia berkata dengan kalimat yang kemudian banyak dikutip:

Muhammadiyah itu lebih mirip marathon, bukan sprint. Ia tahu kapan mempercepat lari, kapan mengambil napas, dan mengatur ritme agar mencapai tujuan dengan tepat.

Muhammadiyah bisa berumur sangat panjang karena kehati-hatiannya. Ia mengukur risk appetite — seberapa besar risiko yang bisa diambil tanpa membunuh gerakan. Ia tidak membangun bisnis dengan cara konglomerat yang bisa langsung membangun jaringan besar dan menjual saham ke publik. Ia membangun dari bawah, dari daerah, dari potensi lokal yang berbeda-beda.

Ia mencontohkan pengalamannya sebagai Rektor Universitas Muhammadiyah Malang: bisnis yang paling realistis adalah bisnis yang menjawab kebutuhan internalnya sendiri.

Muhammadiyah punya ratusan rumah sakit, puluhan ribu sekolah, ratusan kampus. Itu bukan hanya amal usaha. Itu adalah pasar. Itu adalah ekosistem.

Kebutuhan infus rumah sakit Muhammadiyah saja mencapai 16 hingga 18 juta botol setahun. Jika 10 hingga 40 persen saja bisa dipenuhi dari pabrik sendiri, itu sudah sangat bagus. Belum lagi jarum suntik, kapas, perban.

Dari situlah lahir gagasan pabrik infus. Bukan untuk menjadi konglomerat. Tapi untuk tidak bergantung.

Di Palembang, Muhadjir juga mengingatkan: Amal Usaha Muhammadiyah harus menjadi korporasi modern — kuat, besar, profesional, tapi tetap berbasis nilai Islam. Kampus dan AUM tidak boleh berjalan sendiri-sendiri. Mereka harus bersatu, membangun ekosistem bisnis yang saling menguatkan.

Dan di sinilah pesan Muhadjir: Ia meluruskan kalimat KH Ahmad Dahlan yang sering disalahartikan.

Hidup-hidupilah Muhammadiyah, jangan mencari penghidupan di Muhammadiyah.

Banyak yang mengira kalimat itu berarti bekerja di Muhammadiyah tidak boleh mendapatkan penghidupan. Muhadjir meluruskan: maksudnya bukan itu. Maksudnya adalah jangan melakukan penyimpangan seperti korupsi di Muhammadiyah. Yang ditekankan adalah integritas dan tanggung jawab.

Bekerja boleh hidup. Tapi hidup tidak boleh menghidupkan diri sendiri dengan mengorbankan gerakan.

Itulah bedanya ekonomi Muhammadiyah dengan ekonomi pada umumnya.

Ekonomi Muhammadiyah bukan untuk memperkaya pengurus. Ia untuk menghidupkan dakwah. Ia untuk memastikan bahwa ketika seorang anak masuk sekolah Muhammadiyah, ia tidak hanya belajar huruf, tapi belajar bahwa kemandirian adalah ibadah. Bahwa ketika seorang ibu masuk rumah sakit Muhammadiyah, ia tidak hanya sembuh, tapi merasakan bahwa umatnya punya sistem yang peduli.

Di Pamulang, di Sinjai, di Bukittinggi, di Garut, di Palembang — pesannya sama.

Muhammadiyah tidak banyak bicara, tapi bekerja nyata.

Dan sekarang, pekerjaan nyata itu adalah membangun ekosistem ekonomi. Dari Mentari Mart kecil di sudut kota, hingga pabrik infus yang besar. Dari UMKM yang kemasannya sederhana, hingga jaringan ritel yang membentang antar daerah.

Karena dakwah kesejahteraan umat, pada akhirnya, bukan hanya soal ceramah. Ia soal apakah umat bisa makan, bisa sekolah, bisa berobat, dan bisa berdiri di atas kaki sendiri.

Itulah yang sedang dibangun Muhadjir. Bukan sekadar bisnis. Tapi sebuah ekosistem yang hidup.

Tinggalkan Balasan

Sedang Tren