Jakarta, Sketsakini.com- Episode paling ditunggu dari serial yang tidak pernah kita pesan, tetapi selalu muncul di timeline kita.

Jujur saja. Kita semua sudah capek.

Sudah bertahun-tahun, satu pertanyaan yang sama berputar-putar di grup WhatsApp, di kolom komentar, di podcast, di warung kopi, di ruang rapat, sampai akhirnya mampir juga ke ruang sidang: ijazah itu asli atau tidak?

Dan hari ini, Kamis, 5 November 2026, pertanyaan itu tidak lagi dijawab dengan thread panjang, tidak lagi dijawab dengan potongan video yang dipotong di tengah kalimat, tidak lagi dijawab dengan “katanya sih…”

Hari ini, pertanyaan itu dijawab dengan cara yang paling kuno dan paling berani: dibawa langsung, dengan tangan sendiri, ke depan majelis hakim.

Jokowi akan datang ke Pengadilan Negeri Jakarta Timur, bukan untuk pidato, bukan untuk konferensi pers, melainkan untuk duduk di kursi saksi. Dua kali. Pukul 09.00 WIB untuk perkara Roy Suryo, pukul 14.00 WIB untuk perkara Dokter Tifa. Dua sidang, satu hari, satu orang, dan satu tas berisi masa lalu.

Dan isi tas itu, kalau kata kuasa hukumnya, Rivai Kusumanegara, adalah sesuatu yang selama ini hanya kita lihat dalam bentuk fotokopi, tangkapan layar, dan debat yang tidak pernah selesai: seluruh ijazah, dari SD, SMP, SMA, sampai sarjana dari Universitas Gadjah Mada.

“Pak Jokowi sendiri ingin menunjukkan seluruh ijazahnya di forum yang tepat,” kata Rivai. Forum yang tepat itu, ternyata, bukan studio televisi. Bukan panggung kampanye. Bukan juga media sosial. Forum yang tepat itu adalah ruang sidang, di mana setiap kertas harus dibuka, dibaca, dan diuji, di depan hakim, jaksa, penasihat hukum terdakwa, dan delapan puluh pasang mata yang duduk dengan tertib.

Bayangkan adegannya seperti adegan di film yang kita semua sudah hafal, tetapi kali ini tanpa slow motion yang berlebihan.

Pintu ruang sidang terbuka. Seorang lelaki dari Solo masuk, dengan langkah yang sama seperti langkahnya ketika ia datang ke Solo dari Jakarta pada Minggu siang, 1 November 2026, setelah melayani warga yang ingin berfoto di depan rumahnya. Tidak ada rombongan besar yang dramatis. Tidak ada soundtrack yang menggelegar. Hanya seorang saksi, yang akan menjawab apa yang ditanyakan, itu aja, seperti katanya sendiri, dengan kalimat yang sangat Jokowi: pendek, datar, dan tidak berusaha terdengar heroik.

Lalu, ia akan membawa dua ijazah yang paling tua, ijazah SD dan SMP, dengan tangannya sendiri. Dua ijazah yang lain, SMA dan sarjana, sudah ada di tangan jaksa penuntut umum. Mereka akan diperlihatkan bersama, secara terbuka, di hadapan semua pihak.

Empat lembar kertas. Empat babak kehidupan.

Lembar pertama, SD. Seorang anak kecil di Solo, yang belum tahu apa-apa tentang presiden, tentang istana, tentang sidang, tentang trending topic. Yang ia tahu hanyalah: sekolah, pulang, belajar, dan besok sekolah lagi.

Lembar kedua, SMP. Seorang remaja yang mulai belajar bahwa dunia tidak selalu adil, tetapi tetap harus dihadapi dengan kepala dingin.

Lembar ketiga, SMA. Seorang anak muda yang mulai bermimpi lebih jauh dari gang tempat ia tinggal, dan mulai percaya bahwa mimpi itu bisa dikejar dengan sepeda, dengan buku, dan dengan tekad yang tidak berisik.

Lembar keempat, sarjana. Fakultas Kehutanan UGM, 1980 sampai 1985. Seorang mahasiswa berkumis tipis dan berkacamata, seperti lukisan yang kemarin kita buat, yang memeluk buku-buku kehutanan di bawah pohon-pohon besar Yogyakarta, yang belajar membaca hutan sebelum ia belajar membaca negeri, yang akhirnya wisuda bersama teman-teman seangkatannya, dengan toga yang sama, dengan foto yang sama, dengan senyum yang sama, yang tidak pernah menyangka bahwa foto wisuda itu kelak akan diperbesar, diperiksa, dan diperdebatkan oleh seluruh negeri.

Dan hari ini, empat lembar itu akan diletakkan di atas meja, satu per satu, seperti empat kartu yang akhirnya dibuka setelah terlalu lama disembunyikan di balik lengan baju.

Apakah itu akan mengakhiri polemik? Mungkin. Mungkin juga tidak. Sebab di negeri ini, ada orang-orang yang tidak sedang mencari jawaban, melainkan sedang mencari bahan untuk pertanyaan berikutnya. Ada orang-orang yang tidak akan percaya pada kertas, betapapun aslinya kertas itu, karena yang mereka percaya bukanlah kertas, melainkan rasa curiga yang sudah menjadi kebiasaan.

Tetapi setidaknya, hari ini, ada satu hal yang tidak bisa dibantah oleh siapa pun: seorang mantan presiden, yang pernah memimpin negeri ini selama sepuluh tahun, bersedia datang, bersedia duduk, bersedia menjawab, dan bersedia membuka tasnya di depan publik.

Itu bukan adegan yang kecil. Di zaman ketika banyak orang lebih memilih untuk bersembunyi di balik statement tertulis, di balik kuasa hukum, di balik akun anonim, ada seorang lelaki yang memilih untuk datang sendiri, dengan ijazah SD-nya di tangan, dan berkata: ini, lihatlah, periksalah, ujilah.

Dan di seberang meja, ada Roy Suryo dan Dokter Tifa, yang juga punya hak yang sama untuk didengarkan, untuk membela diri, untuk mengajukan pertanyaan, untuk menunjukkan bukti mereka. Sebab sidang ini, pada akhirnya, bukanlah sebuah pertunjukan untuk satu kubu. Ia adalah sebuah panggung di mana dua cerita harus bertemu, dan salah satunya harus dibuktikan, bukan hanya diyakini.

Di luar gedung, seperti yang sudah kita ceritakan kemarin, tiga lingkaran pengamanan akan berdiri, delapan puluh kursi akan terisi, dua kubu akan dipisahkan oleh parkir yang berbeda dan pagar yang berlapis. Di dalam gedung, kamera-kamera akan menyala, dan televisi di luar ruang sidang akan menyiarkan apa yang terjadi di dalam, agar semua orang bisa menonton, tanpa harus berdesakan.

Tetapi yang paling pop, yang paling sastra, yang paling manusiawi dari semua ini, bukanlah pengamanannya, bukan jumlah kursinya, bukan pula jam sidangnya. Yang paling pop adalah ini: sebuah negeri yang sedang belajar, dengan cara yang paling mahal dan paling menyakitkan, bahwa kebenaran tidak bisa dibuktikan dengan viral. Kebenaran hanya bisa dibuktikan dengan cara yang membosankan, yang kuno, yang tidak aesthetic untuk diunggah ke TikTok: dengan datang, dengan duduk, dengan membuka dokumen, dan dengan menjawab pertanyaan, satu per satu, sampai selesai.

Empat lembar kertas itu, hari ini, bukan lagi sekadar ijazah. Mereka adalah empat babak dari sebuah serial yang sudah terlalu panjang, dan hari ini, untuk pertama kalinya, kita akan melihat apakah serial itu akan tamat, atau justru akan mendapatkan season baru.

Dan kita, yang sudah menonton dari jauh selama bertahun-tahun, hanya bisa melakukan satu hal yang paling sederhana dan paling sulit: menonton dengan tenang, mendengarkan dengan jernih, dan tidak memutuskan sebelum palu diketuk.

Sebab, seperti kata orang Jawa yang paling pop dan paling tua: eling lan waspada. Yang ingat, tidak akan tersesat. Yang waspada, tidak akan mudah dibohongi, oleh siapa pun, dari kubu mana pun, dengan kertas apa pun.

Hari ini, mari kita ingat itu, sambil menunggu empat lembar kertas itu dibuka, satu per satu, di depan kita semua.

Satu tanggapan untuk “EMPAT LEMBAR IJAZAH YANG AKHIRNYA TURUN GUNUNG”

  1. Dan pemenangnya adalaaaahhh……

    Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Sedang Tren