Ilustrasi serangan itu.

Pukul 04.30. Jumat. 18 September 2026.

Langit Ndugama Darakma belum sepenuhnya membuka matanya, ketika suara itu datang. Bukan kokok ayam hutan, bukan desir angin lembah. Dua bayangan besi melintas, meraung, lalu melepaskan api dari perutnya.

Itulah laporan yang diterima Markas Pusat KOMNAS TPNPB hari ini, Rabu, 23 September 2026. Ditulis dengan nada sedih Jubir Sebby Sambom, diteruskan dari dua nama yang kini menjaga rimba Nduga: Brigjen Egianus Kogeya dan Mayor Belia Kogeya.

Enam orang luka, tulis mereka. Luka ringan, kata laporan itu, akibat serpihan bom dan desingan peluru dari udara. Enam anak rimba Kodap III yang pagi itu masih berselimut kabut Ndugama.

“Pesawat itu dari Timika,” kata Kogeya dalam catatannya, “di bawah kendali Pangkogabwilhan III.”

Di balik laporan militer itu, ada sumpah yang tak berubah. Egianus menuliskan kalimat yang keras seperti batu gunung:

Kami tidak akan pernah mundur selangkah pun, walau diserang helikopter, pesawat, dan drone.

Lalu ada rintih yang ia titipkan untuk orang-orang di bawah: hentikan bom di kampung-kampung sipil.

Dan ada amarah yang ia tujukan jauh ke kota-kota, kepada sesama Papua. Mengapa senyap ketika pendeta, ibu hamil, anak kecil, pelajar, mahasiswa, orang tua ditembak? Mengapa riuh di media sosial hanya ketika TPNPB yang menarik pelatuk pada agen intelijen? “Hentikan bicara banyak soal perang TPNPB,” tulisnya.

Peringatan lama pun ia ulang: kepada semua imigran Indonesia, tinggalkan wilayah operasi TPNPB. Jika kedapatan, ia menyebutnya akan dicap agen dan dieksekusi. Hukum perang, katanya.

Bersama laporan itu, dilampirkan foto-foto. Puing. Asap. Tanah Nduga yang katanya hancur pada pagi buta itu.

Markas Pusat di ujung rilisnya menulis satu permintaan terakhir kepada aparat keamanan Indonesia: jangan lagi gunakan pesawat tempur, helikopter, dan senjata berat di medan Papua. Senjata yang tak seimbang, yang pada akhirnya — seperti yang selalu terjadi — jatuh bukan hanya pada mereka yang berperang, tapi pada mereka yang hanya ingin tinggal di rumahnya.

Laporan itu ditutup dengan tiga nama besar dari hutan: Jenderal Goliath Tabuni, Panglima Tinggi. Letjen Melkisedek Awom, Wakil Panglima. Mayjen Terianus Satto, Kepala Staf Umum. Dan Mayjen Lekagak Telenggen, Komandan Operasi Umum.

Pagi di Nduga telah lewat. Tapi gema dua pesawat itu masih tertinggal di dalam siaran pers.

Tinggalkan komentar

Sedang Tren