Ilustrasi Ibu Baron.

Catatan tentang Ibu Baron, Sang Ratna dari Maros

Di ujung tahun 2025, ketika kabut masih menggantung rendah di karst Maros, Sulawesi, rimba menyerahkan rahasianya. Bukan emas, bukan nikel. Melainkan tubuh yang meliuk, panjang, purba.

Seekor betina. Piton batik — Malayopython reticulatus — sanca kembang yang oleh warga sekitar diberi nama Ibu Baron. Ketika pita ukur konservasionis merentang di sepanjang sisiknya, angka itu berhenti di 7,22 meter.

Guinness World Records mencatatnya. Sah. Ular liar terpanjang yang pernah divalidasi oleh sains modern.

Bayangkan gawang sepak bola. Rentangkan ia dari tiang ke tiang. Hampir tak ada celah tersisa.

Dan itu pun belum titik kulminasi. Para ahli tahu, dalam keadaan terbius sempurna — ketika seluruh otot melepaskan tegangnya — tubuh ular dapat memanjang 10 persen lebih. Ibu Baron bisa saja menyentuh 7,9 meter. Namun etika mengalahkan rasa ingin tahu. Ia tak dibius. Ia dibiarkan bernapas dalam kemuliaan alaminya.

Tiga Penjaga di Pinggir Hutan

Kisah Ibu Baron adalah kisah tentang campur tangan yang welas asih.

Desember 2025, kabar penemuan itu hampir berakhir seperti biasanya: dibunuh, dikuliti, dijual. Namun Budi Purwanto bergerak lebih cepat. Konservasionis lokal itu merebutnya dari tangan-tangan yang pertama menemukan.

Ia tak sendiri. Datanglah Diaz Nugraha, pawang dan penyelamat satwa liar dari Kalimantan yang namanya harum di antara para pencinta reptil, dan Radu Frentiu, fotografer alam yang bermarkas di Bali. Dua lelaki itu menyeberang pulau demi satu hal: memastikan raksasa ini selamat, dan kebesarannya tercatat bukan sebagai dongeng, melainkan sebagai data.

Beratnya: 96,5 kilogram. Setara seekor panda dewasa. Itu pun dalam keadaan perut kosong. Sehabis menelan babi rusa, ia dengan mudah melampaui 100 kilogram.

Di lahan miliknya, Purwanto membangun suaka sederhana. Bukan kebun binatang. Melainkan jeda. Sebuah perjanjian damai antara manusia dan piton.

Ketika Hutan Menyempit

Piton sebesar Ibu Baron adalah paradoks. Ia ditakuti sekaligus diburu. Dianggap ancaman bagi ternak dan manusia — dan memang ada korban — ia pun langsung dieksekusi setiap kali menampakkan diri. Dagingnya diburu. Kulitnya diperdagangkan.

“Kemunculan meningkat karena habitat menyusut dan ketersediaan makanan alami mereka berkurang,” tutur Nugraha.

Babi rusa, anoa — mangsa alaminya — kian langka oleh perburuan liar. Hutan menyusut. Maka ular pun terpaksa keluar dari belantara, menyusuri batas kampung yang dulu adalah rumahnya.

Piton jaring adalah pemegang takhta ular terpanjang di dunia. Umumnya 3 hingga 6 meter, betina selalu lebih dominan. Satu-satunya yang bisa mengalahkannya dalam soal bobot hanyalah anaconda hijau Amazon, yang bisa mencapai 300 kilogram. Guinness membagi adil takhta itu: terpanjang untuk piton, terberat untuk anaconda.

Sebelum Ibu Baron, rekor dipegang seekor betina dari Kalimantan Timur, Agustus 1999, sepanjang 6,95 meter — yang kala itu dilaporkan baru saja menelan seekor beruang madu. Ada pula catatan-catatan liar: klaim 10 meter di Sulawesi tahun 1912, atau geger 7,5 meter di Penang tahun 2016 yang mati sebelum sempat diukur resmi.

Apakah Ibu Baron adalah yang terakhir?

“Saya rasa begitu,” jawab Nugraha ketika ditanya apakah ada yang lebih besar. “Sangat realistis untuk memperkirakan bahwa ular sepanjang 9 meter atau bahkan lebih besar ada di suatu tempat, kemungkinan besar di Indonesia lagi, jika bukan anaconda di Amazon.”

Di suaka sederhananya di Maros, Ibu Baron melingkar diam. Ia bukan monster. Ia adalah penanda. Bahwa rimba Sulawesi, betapapun kita lukai, masih menyimpan keagungan yang belum selesai kita pahami.

Tinggalkan komentar

Sedang Tren