Ilustrasi Ubed di Nagoya.

Di pundak bocah 18 tahun, tiket semifinal Indonesia dititipkan.

ICHINOMIYA, NAGOYASketsakini.com – Jika bulu tangkis adalah soal urutan, maka Mohammad Zaki Ubaidillah adalah nama yang disimpan di paling akhir. Bukan karena ia yang paling lemah, tapi karena ia yang paling diharapkan menjadi penyelamat.

Dan pada Selasa malam, 22 September 2026, di Ichinomiya City Municipal Gymnasium, anak itu menjalankan takdirnya.

Skor 2-2. Indonesia vs Malaysia. Perempat final beregu putra Asian Games Aichi-Nagoya 2026. Di partai terakhir, di bawah lampu yang panas dan teriakan yang memecah, Ubaidillah — yang dipanggil Ubed — berdiri berhadapan dengan Eogene Eon Ewe.

38 menit. Hanya itu yang ia butuhkan, 21-11, 21-11. Dua gim langsung. Tanpa drama, tanpa rubber, tanpa cedera. Bersih.

“Pasti hari ini bersyukur karena sudah bisa dapat kemenangan tanpa cedera. Dari awal, saya sudah berencana bermain seperti apa,” kata Ubed setelah pertandingan, napasnya masih naik-turun, tapi matanya tenang.

Tenang, meski ia sempat kaget. Di gim pertama, ia tertinggal 0-4. Masuk dalam tempo permainan Eogene yang cepat dan memancing. Bagi pemain lain, itu adalah awal dari panik. Bagi Ubed, itu adalah jeda untuk mengingat.

“Tadi set pertama sempat kaget, mungkin karena kena tempo permainannya dia. Awal-awal sempat tertinggal 0-4, tapi alhamdulillah bisa membalikkan keadaan,” ujarnya. Pengalaman, katanya. Padahal usianya baru 18 tahun. Tapi di Pelatnas, ia sudah ditempa untuk menjadi penahan.

Kemenangan Ubed itu bukan sekadar satu poin. Ia adalah kunci yang memutar pintu.

Dengan kemenangannya, tim beregu putra Indonesia melaju ke semifinal dengan skor akhir 3-2 atas Malaysia — rival abadi yang selalu membuat bulu kuduk berdiri.

Beberapa jam sebelumnya, tim beregu putri lebih dulu memberi kabar baik: menang 3-1 atas Taiwan, mengamankan tiket empat besar.

Maka pada Selasa malam itu, Indonesia mengirim dua tiket sekaligus ke semifinal.

Dan di semifinal Rabu 23 September, jalannya akan lebih terjal.

Beregu putra akan bertemu Thailand — negeri yang tunggalnya sedang panas-panasnya. Beregu putri akan menantang tembok besar: China.

Tapi malam ini, di Ichinomiya, ceritanya adalah tentang pemain terakhir. Tentang bagaimana seorang Ubaidillah, yang namanya ditaruh di partai kelima, justru menjadi yang pertama membawa Indonesia lolos.

Tinggalkan komentar

Sedang Tren