Ilustrasi rekonsiliasi keraton Solo.

SOLO, Sketsakini.com Keraton Solo untuk sesaat seperti panggung yang mencoba merukunkan dirinya sendiri.

Di pelataran yang sama, Rabu, 23 September 2026, dua nama yang sama-sama menyandang gelar Sri Susuhunan Paku Buwono XIV berdiri di bawah atap sejarah yang retak: Hangabehi dan Purboyo. Di antara mereka, seorang pangeran sepuh yang baru saja diberi mandat negara, KGPH Panembahan Agung Tedjowulan, memotong pita bukan untuk memisahkan, tapi untuk menyatukan.

Kantor itu kecil saja. Ndalem di samping Sasana Wilapa, bekas kantor PB XII, yang dindingnya masih menyimpan bisik-bisik kekuasaan lama. Hari itu diresmikan Menteri Kebudayaan Fadli Zon, disaksikan Wali Kota Solo Respati Ardi dan Ketua LDA GKR Wandansari. Sebuah kantor darurat bagi sebuah tugas yang tidak darurat.

“Yang terpenting sekarang adalah bagi saya adalah saya sudah dibuatkan kantor, saya terima kasih,” ujar Tedjowulan, dengan nada seorang abdi yang tahu beratnya beban yang diletakkan di pundaknya.

Lalu ia melanjutkan, separuh serius separuh berkelakar, khas darah bangsawan Jawa yang menyembunyikan luka dalam humor.

“Kantor itu nanti saya gunakan sementara saya dengan Sri Susuhunan Pakubuwono XIV dan tetangga saya masih ada lagi Sri Susuhunan Pakubuwono XIV juga. Jadi 14 tambah 14 jadi ada 28.”

Tawa pecah. Tapi di balik tawa itu, ada aritmetika duka Keraton yang belum selesai.

Melalui SK Menbud Nomor 8 Tahun 2026, Tedjowulan bukan sekadar Pelaksana Pelestarian, Pengembangan, dan Pemanfaatan Kawasan Cagar Budaya Keraton Solo. Ia adalah juru rukun. Tugas tertulisnya: merawat bangunan yang atapnya jebol di 13 titik dengan dana Rp 150 miliar dari Kemenbud. Tugas tak tertulisnya: merawat retak yang lebih dalam, retak trah.

“Saya ditugasi untuk mengajak bersama-sama untuk merukunkan. Yang mana sebetulnya baik-baik saja,” katanya.

Kalimat itu sederhana, namun berat. Karena merukunkan di Solo bukan perkara menumpuk dua kursi raja dalam satu ruangan. Ini perkara mengingatkan dua generasi muda tentang apa itu hak, kewajiban, dan tanggung jawab sebagai penjaga kebudayaan, bukan sekadar pewaris takhta.

Kini, batu pertama revitalisasi telah diletakkan. Atap-atap yang jebol akan diperbaiki. Namun Tedjowulan tahu, yang paling harus direvitalisasi bukan kayunya, bukan gentengnya, melainkan kebersamaannya.

Maka ajakannya itu pun menjadi isyarat: Mari ngantor bareng.

Agar kelak, Keraton tidak lagi memiliki dua matahari kembar yang saling menatap curiga, melainkan satu cahaya yang sama-sama menerangi.

Tinggalkan komentar

Sedang Tren